Yang ku kira telah usai.

Kurang lebih 3 minggu yang lalu  aku mencoba membuka kembali sebuah tali yang dulu sempat terikat dengan erat di antara dua manusia yang sudah lagi tak saling bertegur sapa.

Di hari itu, perasaan canggung masih menyelimuti percakapan kami. Hànya sekedar memberi ucapan, atas kelahirannya yang sudah 20x berulang dan sekedar membalas terima kasih.

Karena semuanya telah usai.

Yang ku kira telah usai. Satu hari sebelum hari kelahiranku, sosok itu kembali datang untuk menanyakan, bagaimana bisa aku masih ingat tentang kelahirannya?

Aku pikir, suasana akan sangat canggung mengingat betapa lamanya kami tidak lagi membalas sapaan di sosial media satu sama lain, dan perpisahan kami yang bisa dibilang bukan perpisahan yang baik-baik saja.

Ternyata dugaanku salah. Meski aku baru mendapat panggilan darinya kembali setelah hampir dua tahun lamanya, faktanya perasaan canggung itu hilang dengan obrolan-obrolan ngaco yang mengudara melalui sambungan telepon di detik itu.

Tak banyak yang dibicarakan, hanya 8 menit. 480 detik yang mampu membuatku banyak mengeluarkan keringat dingin, bahkan setelah obrolan itupun selesai.

Dia mengakhiri oborolannya “Yaudah makan dulu. nanti dikabarin lagi”

Bisa ditahan dulu gak si? atau telponan sambil makan kan bisa. Namun hasrat itu hanya tertahan dalam hatiku saja.

Aku melontarkan kalimat bodoh yang mungkin bisa saja aku sesali “Yaudah kalo gitu, Assalamualaikum“.

Aku tahu, meskipun itu jawaban yang rasional tapi itu bukan jawaban yang tepat. Belum tentu nanti-dalam waktu dekat ini- dia masih ingat untuk menghubungiku kembali.

Aku ini siapa? Semua telah usai.

Daripada berharap banyak-meskipun sangat berharap. Aku mencoba untuk hidup dalam kebiasaan normalku, seolah-olah hal itu tidak pernah terjadi.

Sayang seribu sayang, sekuat apapun usahaku untuk tak acuh menanti kabarnya aku tetap gelisah dan menunggunya menepati ucapannya- dia tidak berjanji.

Setiap orang yang berjanji pun sedikit yang bisa menepati janjinya. Saat ia bilang ‘nanti’ bisa saja nanti yang dalam artian suatu saat yang tidak akan pernah terjadi. Hanya sekedar berucap ‘nanti dikabarin lagi’, semua orang-bahkan diriku sendiri- mampu dan sanggup mengucapkannya, itu hanya kalimat spontan yang dilontarkan agar tali di antara kami tidak lagi terikat sangat erat

Biarlah, semua telah usai.

Bagaimana perasaanku saat itu? Jujur, persaan bahagia saat itu benar-benar mewarnai hariku. Sekilas pun, efek dari mendengar lagi kabarnya berhasil membuatku kembali ke masa-masa indah kami dahulu.

Akhirnya fikiran nakalku menguasai akal sehatku. Meskipun dalam hati aku memaksa untuk menanam sugesti ‘Jangan caper plis’, tak membuatku berhasil untuk tidak melakukannya.

Baca Juga Cerita Sebelumnya

Hal yang biasanya aku rahasiakan di kegiatan bersosial mediaku, kini aku coba tampakkan-demi untuk dilihat dirinya.

Seperti kegiatanku menulis kalimat-kalimat sampah, yang bisa membuat orang yang tidak segenre denganku menyambutku dengah ocehan negatif, entah di depan atau di belakang. Aku tidak bisa sebut itu siapa, tapi pastinya ada.

Gotcha! Usahaku berhasil.

Dia pun tampak tak malu menunjukkan kembali siapa dirinya tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain demi harga dirinya di depan seseorang yang menyakiti dan disakitinya.

Pun, perilakunya masih sama seperti saat kami PDKT dulu, yang lebih suka berbicara di telepon daripada menghabiskan waktu di pesan teks yang sering kali kalimat yang kita sampaikan disalahpahami sang penerima pesan.

Dia yang mengajakku berbicara banyak, persentase dari obrolan kami 25% mengungkit masa lalu, 25% menceritakan kegiatan saat ini, 25% obrolan ngaco yang seharusnya sulit-bagi yang tidak terbiasa mencairkan suasana, 25% merencanakan pertemuan pertama kami lagi-setelah semua yang ku kira telah usai.

Keesokan harinya, tepatnya hari ini 17 Juli 2021. Sikapnya kembali sama, seperti kenyataan yang memang sudah tidak ada lagi kedekatan di antara kami.

Pertemuan yang direncanakan kemarin? Aku menggenggam harapan di tanganku setidaknya 10% pertemuan ini akan terjadi, kenyataan yang akan dijawab oleh takdir lebih besar dari keinginanku sebesar 80% dan 10% nya aku usahakan untuk menagih keberuntunganku terhadap Tuhan Seru Sekalian Alam

Yang ku kira telah usai, memang benar sudah usai.

nandanadva

17 Juli 2021