Tamu Tak Diundang – Part Terakhir

Setelah membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur, Winna duduk santai di sofanya dan menyalakan TV Androidnya untuk menonton Series terbaru Netflix. Saat ingin berpindah ke saluran Netflix, tampak talkshow yang sedang tayang. Sepasang suami istri membagikan kisah inspiratifnya tentang berhasilnya hubungan mereka selama 8 tahun lamanya, dari saat keduanya benar-benar dalam posisi terendah sampai sukses bersama dan berakhir dengan menikah.

Gue pikir yang kayak gini cuman ada di novel yang ditulis sama anak remaja yang pengen cinta yang sempurna. Padahal cinta juga gak seindah itu.

Winna tetap fokus mendengarkan kisah yang dibagikan oleh pasangan suami istri tersebut dari balik layar televisinya. Andai saja hal itu terjadi juga ke diri gue, atau seenggaknya malam ini datang gitu satu orang pangeran yang tanpa ada tujuan jelas dateng ke apartemennya. Tiba-tiba saja, hal itu benar langsung terjadi.

Ia mendengar seseorang membunyikan bel pintu apartemennya, entah itu siapa atau untuk alasan apa. Sudah malam begini. Sesaat ia bimbang, apa sebaiknya ia menyambut tamu yang ingin berkunjung di apartemennya atau ia biarkan saja, seolah-olah tidak ada orang disini.

Setelah berfikir singkat, ia memakai selop berbulunya supaya terlihat sedikit sopan untuk menyambut tamunya. Sempat ia ragu apakah ia harus menyambutnya dengan gaun tidur yang dikenakannya.

Gaun tidur gue gak terlalu terbuka banget sih, kalo temen sendiri ya gapapa kali ya.

Saat melihat layar di dekat pintu apartemennya, ia mendapati laki-laki bertubuh tinggi mengenakan baju hitam yang menjelaskan bahwa sang laki-laki itu baru selesai berolahraga, didukung dengan sisa keringat di tubuhnya yang sedikit memperlihatkan dada bidangnya dibalik kaos hitam tersebut. Jeno?

Kalau ia menyambut Jeno dengan pakaian seperti ini, kekontrasan di antara mereka berhasil membuat Winna sangat malu. Di jam yang belum terlalu malam ini, orang lain masih bersemangat dan dirinya sudah seperti orang berumur yang cepat lelah setelah beraktifitas seharian. Apa baiknya gue ganti baju dulu?

Pikirannya tidak bisa bekerja sama dengan tindakannya, bukannya mengganti baju ia malah membukakan pintu untuk Jeno. Mungkin tidak ingin membuat Jeno mengira dirinya tidak ada di dalam, dan hendak pergi begitu saja, entahlah.

“Je-jeno?” Ucapnya patah-patah. Senang rasanya melihatmu kembali.

“Hai, Na” Ujarnya tersenyum.

Deg. Seketika Winna merasa dunia berguncang begitu dahsyat, gemuruh di hatinya tidak bisa menolak betapa senangnya ia disapa kembali dengan suara yang sudah sangat lama tak didengarnya. Jeno-nya yang dulu masih belum berubah, dia masih menyapa dengan akhiran nama belakang Winna, Na.

Saat ini juga ia ingin meminta Jeno tetap berdiri di depan pintunya, memberinya sedikit waktu kemudian ia banting pintu apartemennya dan segera berlari ke kasur untuk melompat-lompat girang di atas sana. Hal bahagia seperti ini tidak baik memang kalau ditahan, ada baiknya disalurkan dengan berbagai macam ekspresi, seperti yang ia impikan saat ini. Terlalu cepat logikanya mengambil alih, impian itu harus tertunda, setidaknya sampai Jeno pergi.

“Lo ada apa kesini? Udah lama banget gak ketemu padahal”. Ujarnya sambil mempersilahkan Jeno masuk dan diikutinya dari belakang.

“Udah lama banget ya emang? Senang banget bisa ketemu lo lagi”.

“Iya, hehe”.

Ah gila, kenapa gua cuman bisa nyengir kuda kayak orang bego. Bener gak si kalo ketemu lagi sama mantan itu begini? Nyengir-nyengir kuda gak jelas. Pokoknya gue harus sok sok jual mahal, ya seenggaknya gue bersikap normal aja lah ngerespon omongannya. Jangan malu-maluin pliss. Tekad Winna dalam hatinya.

“Pas gue lagi sepedaan di sekitar kantor lo, gue gak sengaja ngeliat lo. Eh enggak, lebih tepatnya gue juga ngikutin lo!”

Lo kenapa masih belum berubah sih di depan Winna? Meskipun dia bukan orang asing tapi kan dia mantan lo. Gak seharusnya lo sejujur ini, oke Jeno, bersikap normal. Jangan sampe ketara kalo lo lagi salting. Sesal Jeno atas kecerobohannya.

Ini terdengar lebih bermutu jika status mereka sebagai sepasang kekasih. Jeno benar-benar menyesal karena tidak bisa mengontrol dirinya, ingin mensugesti dirinya bahwa yang diucapkannya tadi tidak didengar oleh Winna. Sayangnya, melihat wajah mantan kekasihnya terlalu serius mengamatinya dengan tatapan aneh yang sulit diartikan membuatnya kembali gagal dan terganggu. Semoga Winna mengalihkan arah pembicaraan ini.

Bye the way, lo ngeliat darimana? Kalo boleh tau”

Ah, Winna plis. “Waktu lo mau masuk mobil, kalo gua gak salah liat lo abis beli nasi goreng kambing yang sering kita makan waktu itu kan?”

“Langsung ceritain semuanya aja, No. Kenapa lo bisa kepikiran sampe disini dan ngikutin gue?” Potongnya dengan nada angkuh sambil melirik jam Rolex keluaran terbatas di lengannya. “Biar cepet, ini udah malam”. Sambungnya dan kembali menatap Jeno.

“Maaf Na gue udah ganggu waktu istirahat lo. Kayaknya lebih baik gue balik aja gak si?”

“Lho? Tiba-tiba banget”

“Gue juga udah terlalu berkeringat, gue harus sampe rumah supaya bisa bersih-bersih sebelum larut, apalagi gue kesini naik sepeda. Pasti makan waktu lama sampe ke rumah gue”.

I agree, gak baik memang kalo mandi malam-malam. Yaudah kalo emang mau lo begitu”, Winna langsung beranjak dari duduknya, mengikuti Jeno yang sudah melakukannya lebih awal dan mengantarnya sampai ke pintu depan “Maaf No, gue cuman bisa antar lo sampai sini aja”. Ucapnya sambil merapatkan sisi kanan dan kiri gaun tidurnya yang sedari tadi memperlihatkan leher jenjangnya di depan Jeno.

“Gapapa, gue balik dulu, bye!”

“Bye. Hati-hati”

Jeno membalikkan badannya dan terus berjalan tanpa menengok, sementara Winna hanya memandangi tubuh itu sampai menghilang.

Dengan cepat Winna segera menutup pintu apartenennya dan berlari menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu jalan Ibukota yang membantu bulan menyinari malam.

Apartemen yang Winna singgahi tidak terlalu tinggi, ia memilih untuk tinggal di lantai tiga. Sehingga apapun yang terjadi di luar, ia masih bisa menjangkaunya. Terkadang ia sering melihat, sepasang keluarga yang sedang bertengkar hebat. Meskipun terkadang bising dan menganggunya, ia tidak keberatan, karena ketinggian lebih menakutkan daripada kebisingan.

Winna menunggu Jeno keluar dari wilayah apartemennya. Setetes, dua tetes air hinggap di kaca jendelanya. Dengan sigap Winna segera mengganti pakaian tidurnya dengan hoodie dan celana pantsnya dan ia biarkan gaun tidurnya tergeletak begitu saja di lantai.

Bab Sebelumnya

Setelah rapih dengan setelannya, ia segera berlari menuju pintu depan dan membawa payung yang ia simpan di keranjang dekat rak sepatunya.

Lift menunjukkan ia sedang naik ke atas ke lantai selanjutnya, itu terlalu lama. Akhirnya ia segera menggunakan tangga darurat, dan berlari dengan cepat semampu yang ia bisa. Pilihannya memang tidak pernah salah. Memilih untuk tinggal di lantai tiga merupakan pilihan tepat, setidaknya ia tidak terlambat jikalau ada hal berbahaya akan terjadi. Tapi ini bukan bahaya.

Akhirnya ia sampai di lantai dasar, syukurlah Jeno masih disana. Ia segera menghampiri Jeno yang masih berada di dekat pos satpam.

“No” Panggilnya dengan nafas terengah-engah.

“Eh, Na?” Sontaknya kaget, tak menyangka Winna berada disini.

Winna tidak sempat memperdulikan kekagetan Jeno, ia masih sibuk menormalkan kembali nafasnya setelah berlari menuruni tangga tadi.

“Ada barang gue yang ketinggalan?”

“Hah?”

“Hah?” Tanyanya ragu.

“Ah, enggak. Gue takut lo kehujanan di jalan” Winna memberikan payung yang ia bawa tadi untuk Jeno.

Jeno menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Sementara tangan Winna masih menggantung di udara.

“Terima ini, dong No. Tangan gue pegel”. Bentak Winna.

“Tapi buat apa?” Akhirnya Jeno menerima payung dari tangannya Winna.

“Ya buat lo. Biar gak kehujanan”

“Haha. Tapi ini gak hujan sama sekali Na. Gerimis pun enggak”

“Tapi, tadi..” Winna tidak berani melanjutkan perkataannya, ia sangat malu telah melakukan hal bodoh demikian. Bagaimana bisa, dua tetes air di kaca apartemennya ia artikan bahwa hujan akan turun deras. Lebih-lebih ia mengkhawatirkan Jeno akan sakit setelah terguyur hujan. Niatnya memang baik, mencegah Jeno agar tidak sakit. Tapi perlakuannya sangat bodoh.

“Lagi juga, mana bisa gue gowes sepeda terus megang payung. Gue juga udah sedia payung sebelum hujan kok Na. Gak usah khawatir. Hm?”

Tanpa menjawab sepatah katapun untuk Jeno, ia langsung berlari meninggalkannya. Lagi pula, Jeno juga sudah pamit depan pintu apartemennya tadi, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.

Harusnya gue ngebiarin dia pergi begitu aja, kan?

Harusnya gue gak mengedepankan perasaan gue.

Bego! Harusnya gue juga gak usah pake acara segala ngucapin dia ulang tahun.

Dari awal, emang harusnya jangan buka kesempatan ini lagi.

Harusnya gue,,

Ya, gue harus membenamkan muka ke bantal sampai sesak nafas dan tak sadarkan diri.