Pria Penjaga Perpustakaan – Part 3

Hal yang selalu Winna lakukan sepulang kerja menjelang akhir pekan, ia tidak pernah absen untuk tidak mengunjungi perpustakaan terbesar yang terletak di Ibukota.

Seingatnya, banyak beberapa media menuliskannya di halaman berita mereka, bahwa perpustakaan ini memiliki 10juta buku yang diinventariskan, baik dari penulis Dalam Negeri ataupun Luar Negeri.

Winna memasuki lobi perpustakaan dan menyapa beberapa pustakwan yang ia temui di bawah sebelum akhirnya ia mendatangi ruangan yang dipenuhi rak-rak buku tak berujung sesuai dengan minatnya. Minatnya untuk sering mengunjungi perpustakaan ini.

Serunya lagi, alasan lain pengunjung yang datang khususnya para remaja, mencoba mencari pasangan yang menyukai genre buku yang sama. Biasanya mereka menuliskan username atau email pribadinya di sebuah majalah dinding, barangkali saat mereka sedang asyik membaca ada lawan jenis yang memperhatikannya dari jauh, dan saat hendak pulang ia langsung mencatat email yang ingin dikontaknya.

Dan tepat dihadapan Winna hal itu sedang terjadi, ia segera memalingkan pandangannya berpura-pura mencari rak buku finance namun telinganya masih tersangkut di dekat dua pemuda yang sibuk bertukar kontak, sekaligus ingin mendengarkan bagaimana perkenalan itu bisa berlangsung.

Agar tidak terlalu kentara sedang menguping, Winna memperlambat langkahnya saat melewati kedua pemuda itu, mendengarkan kalimat terakhir mereka sebelum benar-benar menjauh.

Kalau dilihat-lihat, hari ini Winna sudah melakukan hal gila. Untuk apa juga ia harus peduli dengan kedua pemuda tadi?

Setelah sampi di rak buku finance, Winna mendapati sosok pria yang mendorong keranjang berisikan banyak buku, dan sebagian tangannya berusaha untuk menyocokkan nomor buku yang harus ia tata di rak secara berurutan.

Winna menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Kalo diukur dari gue yang berdiri disini, tingginya sekitar 170? Alis tebal dan dipahat dengan sangat bagus, hidungnya mancunglah, matanya teduh, tangannya? Bersih banget sampe gak ada dakinya gitu. Pasti punya ABS gak si ni cowo? Omg, bulu matanya seksi. Dih gila, dia ngeliat gua. Eh dia senyum?

“Siang, mbak” Sapanya, yang berhasil menyelesaikan penilaian Winna terhadapnya.

“Eh?” Bukannya membalas sapaannya, Winna malah bersikap tolol. Lagi juga mengapa dia harus merasa kikuk dengan seorang lelaki dihadapannya yang mungkin saja dia penjaga perpustakaan disini. Ini tidak ada apa-apanya, dibanding ia harus persentasi di depan pemegang saham.

“Mba mau baca buku ini?” Ia menyodorkan buku yang sedang dipegangnya. Lelaki ini mungkin bisa membaca gerak tubuh Winna-bukan Winna-seseorang dengan baik.

Tangannya masih menggantung di udara, Winna belum merespon si penjaga perpustakaan itu. Ia masih sibuk menormalkan dirinya kembali, terakhir kalinya ia bertemu dan merasakan getaran seperti ini hanya dengan Jeno. Laki-laki yang sering ia temui, tidak ada yang semenarik Jeno, tapi laki-laki yang di depannya ini berhasil membuatnya gila.

“Mba” Panggilnya lagi.

“Eh iya mas, itu buku tentang apa ya? Eum, maksudnya yang dibahas di buku itu. Isinya lebih ke arah buku-buku penjelasan yang dipakai buat referensi makalah anak kuliah atau ke otobiografi gitu?”

Tak disangka, yang diucapkannya barusan bisa memecah tawa si ‘Pria Penjaga Perpustakaan’. Ya, sekiranya itu julukan yang tepat daripada harus menyebutnya ‘ni cowo‘.

“Eh, kenapa mas?”

“Enggak mba gapapa, saya cuman keinget sama seseorang aja” Ia menghentikan kalimatnya, masih dengan senyuman yang masih merekah “isi buku ini sama kayak yang mba bilang tadi, referensi buku anak kuliahan sekaligus otobiografi, tapi lebih dominan otobiografinya mba. Overall, isinya banyak mengajarkan kita tentang bebas keuangan sebelum usia 40 tahun”. Pria Penjaga Perpustakaan itu menyodorkan bukunya ke Winna.

Winna menerimanya dan “Yailah, ini mah buku udah pernah gue baca. Covernya aja yang baru”. Meskipun ia bergumam pelan, namun ucapan Winna masih dapat didengar oleh Pria Penjaga Perpustakaan.

“Kalo mba udah pernah baca, saya ada rekomendasi buku lain mba”. Winna merasa bersalah atas perkataannya barusan, ia segera mencegah Pria Penjaga Perpustakaan itu untuk tidak merekomendasikan lagi buku tentang finance.

“Eum, makasih banyak sebelumnya mas, tapi gak usah repot-repot. Hampir 80% buku tentang finance udah pernah saya baca sem..” belum kelar ia menyelesaikan kalimatnya, Pria Penjaga Perpustaakan itu segera memotong ucapannya dengan antusias. Oh Tuhan, dia ganteng banget kalo lagi kaget begitu. Oke, calm down Winna, lu harus normal.

“Serius mba?”

“Mungkin karena jurusan yang saya ambil pas kuliah tentang finance, ekonomi dll. Jadi wajar aja gak si?” Pria itu mengangkat sebelah alisnya, mungkin perkataannya sedikit ambigu, jadi Winna segera meluruskan ucapannya “Maksud saya, sudah 7 tahun menyelami dunia finance jadi banyaknya buku yang saya baca sesuai dengan porsinya, gitu mas”.

“Ah, begitu”. Ia memindahkan dua buku yang tersisa dipegangnya ke rak sesuai dengan urutan nomornya. “Saya permisi, ya mba. Mari”. Ucapnya dan pergi begitu saja sambil mendorong keranjangnya.

“Mari”. Winna membungkukkan sedikit badannya sebagai salam hormat, dan ikut menoleh ke belakang bersamaan dengan si Pria Penjaga Perpustakaan melewatinya.

Pria itu tidak menoleh lagi, kali ini ucapannya sedikit dingin, sifat ramahnya hilang. Apa yang salah denganku? Atau ada yang salah dengannya?

Bab sebelumnya

♧♧♧

Setelah menjauh dari batang hidung wanita yang baru ditemuinya tadi, Pria Penjaga Perpustakaan itu menemui Sang Pustakawan yang masih berdiri ditempatnya, mengawasi interaksi keduanya tadi.

Tak kalah tampannya dengan si ‘Penjaga Perpustakaan’, Sang Pustakawan ini memiliki bentuk wajah rupawan hal itu didukung oleh rahang tajam yang ia miliki dan alis tebal terpahat begitu sempurna. Katanya, seorang pria yang memiliki alis tebal, sudah pasti memiliki ketampanan yang paripurna, hal itu pun diakui oleh beberapa pria yang melihatnya.

“Kenapa ditinggal begitu aja?”

“Dia gak terlalu ingat sama gue”

“Ketara banget sikap lo yang berubah begitu aja, otak lo gak sampe ya kalo dia bakal ngira lo aneh?”

“Enggak sih, dia juga keliatan acuh”

“Ya, okelah. Bagaimanapun juga, gua salut sampe lu ngebela-belain buat nyamar jadi penjaga perpustakaan. Ke depannya lo bakal ngelakuin hal ini? Cewe itu sering datang kesini setiap hari Jumat”.

Pria Penjaga Perpustakaan itu sama sekali tidak merespon apa-apa info dari Sang Pustakawan di sebelahnya yang sedari tadi menunggu jawaban.

“Gue bakal coba ajak dia ngobrol, basa-basi antara karyawan perpustaakan sama pengunjung aktif, Bye!”. Sang Pustakawan menepuk bahunya dan meninggalkannya tanpa mendapatkan persetujuannya lebih dulu. Menunggu respon orang yang bodoh saat jatuh cinta adalah hal sia-sia.

Setelah melewati beberapa rak tinggi yang berjajar, Sang Pustakawan tiba di ruangan baca. Matanya menyapu seluruh isi ruangan tersebut, mencari sosok yang diawasinya tadi. Sampai di pojok ruang baca ia menemukan sosok wanita yang masih ia ingat memiliki rambut terurai, panjangnya tidak melebihi bahunya. Wanita itu sedang duduk di meja rendah sambil memandangi papan catur. Segera ia menghampirinya.

“Kamu pengen main catur?” Sapanya di pertemuan pertama mereka.

“Eh?” Winna langsung menengok ke arah si empunya suara.

“Pengan main catur?” Ulangnya sekali lagi.

“Enggak, kok. Cuman lagi mikir aja kenapa cowo-cowo suka banget main catur”.

“Saya boleh duduk di sebelah kamu nggak?”

“Oh, silahkan”. Winna langsung menggeser posisi duduknya yang hampir menabrak dinding. Pustakawan itu duduk di sebelah Winna dan memperkenalkan dirinya.

“Terima kasih. Eum, sebelumnya maaf kalau saya ganggu kamu yang lagi berpikir. Cuman, saya sering ngeliat muka kamu gentayangan di perpustakaan ini tiap Jumat”

Winna tertawa ketika lelaki disebelahnya menggunakan kata ‘gentayangan’, “untungnya banget gua dateng setiap Jumat sore. Jadi kata ‘gentayangan’ yang lo ucapin gak begitu serem”.

Winna memang mempunyai kelebihan yang bisa mencairkan suasana bahkan dengan orang yang baru sekali bertemupun.

“Wah, saya gak kebayang kalo kamu datangnya setiap malam Jumat, hahaha”. Sang Pustakawan tidak merasa sulit untuk mencocokkan candaannya, ia rasa Winna memiliki selera humor yang sama dengannya. Bertolak belakang dengan cowok kaku yang beberapa menit lalu ia tinggal.

“Gue rasa para hantu cewe di perpustakaan ini, minder si ngeliat gue”.

“Eummm” Sang Pustakawan memutar bola matanya seolah mencari alasan untuk setuju dengan pernyataan yang Winna buat “Ya, gak salah juga pengakuan kamu. Jadi manusia aja, kamu udah masuk kategori perempuan versi cantik. Terus terang aja, banyak yang lebih cantik dari kamu, tapi segini mah muka-muka yang enak lah buat dipandang, meskipun gak cantik banget yaa” Sambungnya, berusaha menggoda Winna.

“Terima kasih banyak udah mengakuinya, selagi masih bisa diterima dalam kategori cantik, not bad kok!” Jawab Winna sambil memberikan wink kepada Sang Pustakawan.

“Oiya, saya hampir lupa mau kenalin diri saya. Kamu terlalu asik untuk ukuran orang yang baru kenal”

“Nama gue Winna”. Winna berhasil memperkenalkan dirinya terlebih dulu, dan mengulurkan tangannya.

“Saya Devan”, menyambut uluran tangannya Winna “saya juga bekerja di perpustakaan ini”

Semoga suka yaaaa

Best Regard 💚