Siapa Nietzsche itu? Seorang pemikir dari Jerman yang memiliki nama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di Saxony, Prussia, 15 Oktober 1844 – meninggal di Weimar, 25 Agustus 1900 pada umur 55 tahun. Selain menjadi seorang filsuf beliau juga merupakan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, kritikus budaya, penyair dan komposer.

Tertulis dalam wikipedia, beliau merupakan tokoh pertama dari eksoistensialisme modern yang ateistis. Atau lebih populer beliau dikenal sebagai penggagas yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”

Novel Bumi Cinta. Source: bukurepublika

Dalam ulasan novel “Bumi Cinta” yang ditulis oleh Habiburrahman El-shirazy pada tahun 2010 silam, menceritakan tentang seorang pemuda Indonesia bernama Muhammad Ayyas, yang berkunjung ke Russia untuk melakukan sebuah penelitian tesisnya. Ayyas dipertemukan oleh seorang profesor muda yang memiliki kecerdasan luar biasa dan kecantikan yang setara dengan Tsarina Russia bernama Doktor Anastasia Palazzo, selaku pembimbingnya dalam melakukan tesis yang menggantikan Profesor Abraham Tomskii.

Berkat rekomendasi Doktor Anastassia, Ayyas mengisi seminar di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Moskow Lomonosov (MGU) menggantikan salah satu profesor terkenal yang berhalangan hadir. Seminarnya pun memiliki tema tentang tuhan di era modern.

Singkatnya, Ayyas menentang tentang opini yang disampaikan oleh Victor Murasov yang mengkhianati adanya Tuhan melalui kutipannya “Tuhan Telah Sirna”.

Passalnya, ia terlalu lama menyampaikan pendapatnya sehingga sang moderator menyuruh untuk menyudahi materinya, namun para hadirin seminar dibuat puas oleh pernyataan Kang Abik yang menjelma sebagai sosok Ayyas dalam novel ini, mengenai pembuktian yang dikatakan oleh Nietzsche dan runtutan cara berpikirnya sampai meniadakan tuhan.

Nietzsche menggegerkan Eropa karena menurutnya Tuhan telah mati. Dalam bahasa Viktor Murasov Tuhan telah sirna.

Bagaimana runtutan cara berpikir Nietzsche sampai dia meniadakan Tuhan?

“Begini, menurut dia, manusia mengakui adanya Tuhan karena tingkat ilmu dan teknologi yang rendah. Manakala manusia telah mencapai ilmu dan teknologi yang tinggi niscaya percaya pada Tuhan tidak diperlukan lagi. Dahulu ketika ilmu dan teknologi manusia masih rendah, hidupnya masih tergantung pada belas kasihan alam. Semua kekuatan alam didewakan. Ketika manusia melihat banjir besar melanda pertanian dan pemukimannya yang membawa penderitaan luar biasa, ia merasa tidak mampu mengatasinya. Ketika banjir reda dan sungai kembali jernih manusia dapat memanfaatkan kebaikannya sebagai sumber penghidupan. Ikan-ikannya yang gemuk dan manfaat lainnya yang banyak. Agar sungai tidak mengamuk dan tetap memberikan berkah lalu disucikannya. Dianggap mempunyai kekuatan raksasa yang gaib. Lalu diberi sesaji, dihormati, dituhankan.

Baca Juga : Shine 

“Dalam masyarakat primitif muncul dewa, sungai, dewa langit, dewa laut, dewa hujan, dewa pertanian dan lain sebagainya yang itu semua merupakan kekuatan alam. Tetapi ketika manusia tidak lagi tergantung pada alam, dengan ilmu dan teknologinya dapat mengendalikan banjir, dengan ilmu pertanian melipatgandakan hasil panen, dewa atau Tuhan sungai tidak ada lagi. Kekuatan alam yang berupa banjir yang dulu diagungkan dan disucikan diberi sesaji kini harus sujud menyembah di telapak kaki manusia. Dalam sejarah bangsa Yunani dikenal banyak dewa-dewa yang diketuai oleh Tuhan Zeus.

“Kini manusia telah menguasai ilmu dan Tuhan ataupun dewa-dewa yang dianggap sebagai Tuhan, tinggal hanya dalam buku-buku di perpustakaan. Nietzsche bertanya, ke mana Tuhan-Tuhan itu pergi? Apakah ‘dia lari atau bersembunyi ataukah dia hilang seperti anak kecil? Tidak! Tuhan itu telah mati! Kita yang membunuhnya, demikian Nietzsche mengejek bahwa Tuhan ditikam jantungnya dengan belati ilmu pengetahuan.

Ia sangat optimis bila manusia telah mencapai kemajuan, sehingga ilmu pengetahuan membebaskan manusia dari ketergantungannya pada alam, maka Tuhan telah sempurna matinya. Ia membutuhkan waktu sebagaimana kilat pun membutuhkan waktu. Ia menganjurkan agar manusia terus maju mengejar ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia, sendiri menjadi pengatur alam, bukan tergantung pada alam.

Manusia dengan ilmu pengetahuannya harus menggantikan dewa-dewa orang primitif, menjadi penentu dan pengatur alam, ia harus menjadi manusia atas atau manusia super. Dan tentu saja pemikiran Nietzsche samasekali tidak benar.

Bagaimana membuktikan pemikiran Nietzsche samasekali tidak benar?

“Mudah saja, begini, Nietzsche begitu optimis akan mukjizat ilmu pengetahuan yang dengan kekuatannya menusia dapat menguasai alam, dan bila demikian, maka Tuhan tidak diperlukan lagi. Benarkah ilmu pengetahuan dapat menjanjikan optimisme yang diyakininya bahwa manusia akan dapat menguasai alam?

“Tidak diragukan lagi, manusia dengan ilmu dan teknologinya telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Sekali peristiwa terjadi di ujung dunia, pada saat yang sama dapat dimonitor pada ujung dunia yang lain. Sekali gagang telpon diangkat, komunikasi antarbenua dapat terlaksana.

Manusia telah berhasil melakukan cangkok ginjal, cangkok jantung dan bahkan mampu menggandakan makhluk hidup dengan cara cloning. Berbagai penyakit berbahaya seperti TBC, infeksi, raja singa bisa diatasi.

Manusia merasa semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologinya, semakin kecil masalah yang tidak bisa diatasinya, sehingga pada suatu saat akan sampai pada batas di mana semua masalah akan dapat diatasi.

“Tetapi apa yang terjadi tidaklah demikian. Batas di mana manusia ingin mencapainya ternyata selalu mundur sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan. Suatu masalah dapat ditangani, masalah lain muncul. Demikianlah! Maka selamanya manusia tidak akan dapat mencapai batas itu. Ilmu pengetahuan tidak dapat mendeteksi kapan persisnya gempa terjadi. Kalau pun bisa mendeteksi, tetap saja ilmu pengetahuan tidak dapat menolak terjadinya gempa.

Demikian pula untuk selamanya manusia tidak akan melepaskan diri dari ketuaan dan kematian. Kenyataan ini menyadarkan dia sebagai makhluk lemah. Membawa dia kepada keyakinan akan adanya suatu Dzat yang kuasa sepenuhnya, yang dapat mengobati segala penyakit.

Yang dapat menghidupkan dan mematikan. Yang tidak terbatas kekuasaannya. Tidak terpengaruh oleh waktu. Yang kekal abadi tidak terkalahkan oleh kematian, sebab Dialah pencipta kematian. Dialah Tuhan! Dialah Allah,Tuhan seru sekalian alam.

“Jadi hanya orang gila yang mengatakan Tuhan telah mati atau telah sirna. Sebagaimana sejarah mencatat Nietzsche pada akhirnya adalah gila. Dia mati mengenaskan dalam keadaan gila! Tak ada yang membantah kenyataan ini. Maka agar kalian tidak gila, kalian jangan mengikuti Nietzsche!”

Mendengar penjelasan Ayyas, peserta seminar terpana. Semuanya disihir suara Ayyas yang runtut dan lantang.

“Dan camkanlah wahai hadirin sekalian yang saya hormati,” Ayyas melanjutkan penjelasannya sebelum menutup kalimatnya,”camkanlah baik-baik, dan ini yang terpenting untuk kita renungkan bersama. Camkanlah! Benar bahwa beberapa waktu yang lampau, si Gila Nietzsche mengatakan, TUHAN TELAH MATI. Sekali lagi dia mengatakan, TUHAN TELAH MATI.

“Saat berkata, TUHAN TELAH MATI, NIETZSCHE MASIH HIDUP. Tapi hari ini, saat kita seminar di sini, bukti ilmiah telah kita saksikan, ketahui dan rasakan sendiri, bahwa hari ini, NIETZSCHE TELAH MATI, SEDANGKAN TUHAN MASIH HIDUP DAN MELIHAT KITA SEMUA. Bahkan Tuhan masih melimpahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua di sini” tak terkecuali kepada Victor Murasov yang terang-terangan menghina dan mengingkari-Nya!”

Sedikit Review

Selain hal-hal tentang Atheis, masih banyak hal yang dibicarakan dalam novel ini. Salah satunya, bagaimana Ayyas menjawab pertanyaan doktor Anastasia (dengan jawaban yang tidak biasa) mengenai orang Islam yang menyembah Ka’bah, yang menurut doktor Anastasia tak lain hanyalah sebuah batu biasa.

Dari seluruh aspek, novel ini banyak menceritakan soal kehidupan beragama, kultur, toleransi, dan orang selain islam memandang islam. Karena dalam novel ini banyak tokoh selain islam, maka dari itu Kang Abik mampu menyampaikannya secara logika bukan dengan dalil-dali yang terlalu berat sehingga dapat mudah dipahami oleh banyak orang.

Meskipun dari penyampaian Ayyas kepada Linor dan Yelena ataupun doktor Anastasia mengenai pengetahuan, jenis-jenis atheis-yang terkadang menurutku terkesan menggurui, at least novel ini patut diapresiasi dan sangat direkomendasikan untuk siapapun membacanya.

Sekian dan terima kasih 🙂