Semua orang pasti menganggap dirinya adalah korban dari masa kelam, korban dari hubungan yang tidak diinginkan.

2 tahun lalu, aku fikir saat kau bilang ingin berpisah, kau serius mengatakannya, dan sangat berambisi untuk mencapai segala mimpimu yang sering kau ceritakan dulu.

Ternyata itu hanya alasan kau saja untuk menjauhiku, alasan murahan yang selalu diterima oleh setiap perempuan yang menyetujui alasan perpisahan yang masuk akal.

Karena banyaknya perempuan, termasuk diriku, tidak ingin mendengar kenyataan bahwa-mungkin saja-kau sudah memiliki list perempuan yang bisa dijadikan pengganti yang jauh lebih baik-menurutmu.

Terakhir mendengar kabarmu kemarin, kau bilang “gua udah berhenti dari pekerjaan itu”.

Alasan untuk mengejar mimpi tidak serius kau katakan. Batinku.

Sejujurnya, aku tidak terlalu fokus mendengar alasanmu. Aku tidak peduli keoptimisanmu akan menemukan pekerjaan yang lebih baik. Fikiranku fokus pada perkataanmu di masa lalu, dan sedikit aku merutuki dirimu atas semua kebohonganmu.

Agak sedikit jahat memang, kalau aku punya fikiran bahwa kau berhenti dari pekerjaanmu, mungkin karena dirimu. Ya, tidak perlu kusampaikan dirimu seperti apa? Kau sendiri yang mengetahuinya, aku hanya menilai dari semua perbuatanmu yang pernah kulihat saja.

Sebagai respon karena akhirnya kau sadar bahwa aku tidak terlalu mendengarkan ucapanmu, aku mengalihkan pembicaraan yang membuatku tidak ingin mengingat masa kelam kami dulu. Haha. Lucu sekali, aku masih menyebut hubungan antara aku dan kamu dengan kami.

Untukmu yang kembali hanya untuk mengungkit masalah yang sudah berhasil ku lupakan selama dua tahun lamanya. Kau masih sama, selalu menyimpulkan bahwa kaulah yang menjadi korban di antara hubungan tidak sehat ini.

Kau tidak sendiri, aku juga merasa menjadi korban atas ketidakcakapanmu dulu saat kita masih bersama. Saat ini bukan hal yang tepat untuk saling menyalahkan, jadi kubiarkan kau melakukaknnya secara sepihak.

Seperti yang sudah kulakukan padamu dulu, setidaknya aku sudah puas menganggap diriku sebagai korban meski tidak kau respon. Membaca pesanku pun kau enggan.

Sepanjang obrolan di sambungan telepon, kau selalu meyakinkan dirimu tidak sepenuhnya salah “padahal kesalahan gua cuman sedikit, tapi lu maki-maki gua sampe segitunya”. Ingin rasanya aku mematikan panggilanmu saat itu juga.

Barangkali ini adalah kesempatan terakhirku yang akhirnya bisa kembali berbincang denganmu-meski aku benci arah pembicaraannya. Harusnya, kesempatan seperti ini harus ku nikmati, bukan? Setidaknya untuk melepas beberapa hal yang tidak pernah berhasil tersampaikan-termasuk rindu.

Rindu yang saat itu masih benar dalam artian yang sebenarnya, rindu dimana dua orang insan yang saling mencintai namun terhalang jarak dan menanti waktu untuk bertemu.

Namun saat ini rindu yang kusalurkan tidak lebih dari yang semestinya, meski tidak berjarak aku merasa asing, dan tidak lagi menanti untuk temu.

Saat emosi dan kebencian masih menyelimuti diriku, aku berjanji kalau ada kesempatan bertemu denganmu aku akan bicara apa adanya, semuanya.

Bahkan aku selalu berlatih dan memikirkan kosa kata apa yang akan ku lontarkan yang bisa membuat hatimu sangat terluka.

Baca juga artikel yang ditulis sebelum “Korban dari Masa Kelam”

 

Saat itu, hal yang kuharapkan tidak pernah terjadi, kau pergi begitu saja tanpa memberikan kesempatan untuk meluruskan semuanya.

Kupingku panas mendengar ucapanmu yang berulang-ulang menegaskan bahwa kau adalah korban. Pernyataan yang sering kau ulang itu, seolah menganggap diriku seorang yang kholi dzihni. Aku tidak sekosong itu untuk setuju dengan pernyataanmu.

Sudah terlalu muak sampai sulit untuk merespon apa-apa, kalimat yang dulu sudah ku latih tidak keluar satupun. Satupun untuk melukai hatimupun tidak berhasil kusampaikan. Ku rasa dengan berkata “Bukan tugas gua nginget-nginget kesalahan lu” itu jauh lebih dari cukup dan sedikit bijaksana. Aku memang sudah mengikhlaskan semuanya.

Lantas mengapa kau masih sangat ingin membahas soal hubungan-yang padahal tidak sehat-dulu? Nostalgia katamu? Cih, kau mungkin terlalu membanggakan dirimu dengan mengingat hal bodoh itu, hal itu tak jauh bedanya dengan dirimu.

Aku sudah dewasa kali ini, kau tidak akan menemukan sosok diriku yang membekas dalam ingatanmu.

Aku harap kau menyesali semua perbuatanmu, atau setidaknya bisa belajar.

Best Regards

nandanadva