Kudapati diriku seorang diri, merasakan kebingungan yang tidak tahu harus menunggu dimana dan berbuat apa.

Aku memutuskan untuk menunggu di kursi tamu. Aku ingin bertanya, tapi ku urungkan niatku dan memberi waktu untuk diriku, ku gunakan waktu 2 menit untuk berfikir dan merangkai kata dengan baik adalah jurus andalanku supaya tidak melakukan hal ceroboh seperti tadi pagi.

Ku coba untuk mendiamkan otakku sejenak, supaya fikiranku tidak memikirkan hal yang lain. Seperti seorang yang sedang melakukan meditasi, aku tidak menemukan inspirasi apapun di dalam otakku, atau kosa kata terbaik namun memiliki arti yang sarkas. Otakku kosong begitu saja, hanya ada satu yang ku ingat. Senyum mengerikan tadi. Ya tuhan!

Cerita Sebelumnya : Hari Pertama

Aku tidak ingin memaksa otakku berfikir lebih banyak lagi, kemudia mengecek ponselku. Melihat obrolan grup bersama keluarga cemaraku, bagaimana keadaan mereka dan apakah mereka sama bingungnya denganku. Namun, tak ku dapati mereka muncul di obrolan grup kami, terakhir hanya pesan dari ku tadi pagi memberikan mereka semangat. Sepertinya hari ini kami benar-benar tidak beruntung, atau mungkin hanya akau.

… … …

“Jobdesk apa yang kalian berikan untuk anak baru itu?”. Tanya Jeff yang tiba-tiba mengagetkan para pegawai disana.

“Belum pak, kami rasa pekerjaan bulan ini tidak terlalu menumpuk seperti bulan yang lalu. Kami semua dapat menangani ini sendiri pak”. Bu Mawar menjawab pertanyaan Jeff dengan sangat sopan tanpa menatap matanya untuk mewakili para rekannya.

Meski Jeff lebih muda dari pada bu Mawar dan para pegawainya. Jeff memang terlihat sangat dingin, perlu disesali wajah tampannya tidak pernah menunjukkan senyumnya namun Jeff memiliki wibawa dan kharismatik yang luar biasa hingga disegani oleh beberapa bawahannya bahkan yang lebih tua darinya.

Walaupun begitu, Jeff tidak sombong dan tetap menghormati mereka. Sesekali Jeff meminta mereka untuk bersikap santai di luar kantor, namun para bawahannya tidak bisa melakukan apa yang diminta oleh Jeff.

Jeff memang baru menjabat sebagai direktur keuangan muda selama 3 bulan terakhir. Karena di usia yang terbilang cukup muda, dia menyelesaikan Studi S-3nya di Massachussets Institut of Techonolgy, USA dan menyandang predikat cumlaude.

Di tambah lagi, Jeff adalah keturunan ketiga dari pemilik utama perusahaan ini, membuatnya cukup mudah untuk menggantikan direktur keuangan sebelumnya yang menghadapi beberapa skandal terkait keuangan perusahaan.

Sebenarnya Jeff ingin sekali menolak tawaran dari sang kakek, dan melanjutkan keinginannya berkeliling dunia menikmati masa mudanya. Namun Jeff ingat bahwa seseorang yang dicintainya selama 5 tahun terakhir, dan orang yang tentu saja masih dalam pencarian Jeff. Jeff sangat merindukannya.

Dan hari ini, Jeff bertemu dengannya. Dengan wajah yang selalu membuat Jeff ingin mengenal dia lebih dalam, kini sudah ada di depan matanya, Jeff hanya perlu menjalani takdirnya dan mempertahankan gadisnya agar tidak jauh-jauh lagi dari pandangannya.

“Baiklah, kalau begitu aku akan membuat dia bekerja untukku. Biar aku yang mengurus gadisku”. Ucap Jeff mempersiapkan rencananya agar gadis itu bisa bersamanya lebih lama, atau selamanya.

Chapter Sebelumnya : Hari Pertama

… … …

Sudah 20 menit aku memainkan ponselku dan sesekali menengok ke ruangan mereka, barangkali ada yang membutuhkanku, setidaknya untuk membantu mereka menyalin dokumen atau menyusunnya dan sebagainya. Namun mereka dengan sibuk di kubikelnya dengan urusan mereka masing-masing.

Baiklah aku akan masuk ke dalam, dan menanyakan pekerjaan apa yang bisa ku lakukan. Aku yang membutuhkan perusahaan ini, bukan sebaliknya. Aku harus adil dan jangan memakan gaji buat. Ku bulatkan tekadku untuk memulai pekerjaan ini dengan baik.

“Hae!!” Panggil seseorang di belakangku, dan membuatku mencari pemilik suara itu. Seorang wanita hamil, sepertinya umur kandungannya sudah tua terlihat dari cara ia berjalan dan tidak kuat membawa dirinya sendiri.

Merasa tidak tega melihat dia yang jauh dari hadapanku menghampiriku untuk membicarakan sesuatu, aku berinisiatif untuk menghampirinya.

“Baik bu, ada apa?” tanyaku sedikit tersenyum.

“Hae, kamu dipanggil sama Pak Jeff, suruh datang ke ruangannya. Sepertinya beliau inginkan kamu untuk menggantikan pekerjaanku selama aku cuti hamil”. Ucapnya dengan nafas terengah-engah. “Cepat temui beliau yaa, aku akan segera pulang dan mulai cuti hari ini. Selamat bekerja Hae, semua buku petunjuk sudah ada di mejaku”. Sambungnya, kemudian pergi meninggalkanku, membuatku bertanya-tanya jobdesk apa yang aku dapatkan.

Setelah melihatnya pergi di balik lift, aku mengetuk pintu ruangan pak Jeff yang terbuat dari kayu, terlihat dari luar ruangan itu benar-benar sangat tertutup dengan rapat. Tanpa ada celah sedikitpun, kecuali celah cahaya dari jendela luar kantor.

Tidak ada respon apapun, ku ketuk lagi pintunya. 3 kali ketukan dalam satu waktu. Ku tunggu hingga 5 menit kemudian yang belum di respon apapun dan ku ketuk kembali.

Dan akhirnya pintu terbuka, sedikit terkejut melihat sosok yang membuka pintu tersebut. Dia tidak mengenakan jasnya, hanya menggunakan kemeja putih dan dasi yang sedikit dilonggarkan. Dengan posturnya yang memiliki tinggi 178 cm aku tiada henti memujinya dari pertama kali melihatnya.

Dia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkanku untuk mengikutinya berjalan menuju mejanya. Kemudian dia menarik kursinya dan duduk sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Menatapku penuh dengan intimidasi.

“Siapa namamu?”. Tanyanya memulai pembicaraan kami.

“Apa bapak mengidap penyakit Alzheimer? Saya rasa saya sudah memperkenalkan diri saya dengan baik saat doa pagi tadi”. Ucapku dengan sarkas namun tetap berbicara dengan sopan kepadanya.

“Haha”. Melihat caranya tertawa sangatlah menyebalkan. “Kamu tahu siapa nama saya?”. Sambungnya.

“Tentu saja tidak”.

“Wajahmu tidak asing, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Dia terlihat memikirkan sesuatu, aku tidak menyela ucapannya barangkali masih ada yang ingin dia sampaikan. “Atau mungkin di kehidupan sebelumnya, kau ditakdirkan menjadi istriku. Dan saat ini kita sedang dipertemukan kembali, menjalani takdir kita”. Ucapnya dengan sedikit menggoda.

“Hah bapak penganut Budha? Saya tidak percaya dengan reinkarnasi, mungkin kalau nenek moyang saya punya”.

Mungkin hari ini aku sedikit tidak sopan kepada bosku, karena menyinggung sedikit soal Agama.

,,, ,,, ,,,

Kategori: Story

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *