Kita pernah bersama – Semua yang terjadi pada hari ini bukanlah sesuatu yang bisa dibilang cukup menyenangkan. Mau bagaimanapun hal seperti ini harusnya tidak dimasukkan ke dalam hati.

Langit yang berwarna oranye kini berubah menjadi gelap. Stasiun dipenuhi pekerja kantoran yang hendak pulang ke rumahnya untuk menemui keluarga mereka masing-masing.

Termasuk diriku, namun aku pulang hanya untuk memenuhi keinginan diri sendiri. Aku melihat ponsel sambil menunggu datangnya kereta tujuan Cikarang yang datang satu jam sekali.

Di layar beranda, muncul sebuah foto yang di post oleh mantan kekasihku dengan kekasih barunya.

Meskipun sudah berpisah sekitar dua tahun lalu, aku masih sangat kesal padanya. Bodohnya, aku masih terus mencari tahu tentangnya menggunakan akun instagram palsu.

Terakhir dia menghubungiku saat aku sedang berlibur ke daerah Jawa Timur. Kalau aku pribadi merasa, mungkin dia menghubungiku secara tiba-tiba karena dia melihat postingan terbaru di instastory-ku, yang ya mungkin saja temannya yang berteman denganku memberi tahu padanya.

Lagi-lagi, aku merasa yang foto yang aku post hmm terbilang cukup cantik dan natural. Sengaja memang, hanya untuk dilihatnya kembali.

Oh iya, aku memang sering berharap fotoku akan dilihat olehnya. Walaupun kami tidak berteman di Instagram sama sekali. Aku berharap setidaknya dia bertanya ke temannya “Ada postingan baru apa dari dia (aku)?”. Ah itu hanya harapanku.

Chatnya memang tidak jelas, hanya menanyakan sesuatu hal yang sangat random dan menurutku tidak sinkron. Aku merasa dia hanya ingin berbasa-basi saja.

Hati kecilku memang aku sangat menantikan ini, setelah lamanya aku berharap, hari ini harapanku terkabul.

Namun hati manusia kadang suka tidak dipenuhi rasa syukur. Dan yang ku lakukan padanya hanya sikap ketus seolah-olah “ada apa menghubungiku lagi?”.

Tak lama kemudian, ada pengumuman bahwa KRL tujuan Cikarang berangkat dari stasiun Juanda. Aku langsung memasukkan ponselku ke dalam tas.

Meskipun padat, namun KRL yang ku naiki cukup lenggang karena banyak pekerja yang bekerja dari rumah.

Satu persatu di setiap stasiun banyak orang yang turun dari kereta, dan aku akhirnya bisa duduk sampai di stasiun tujuanku.

Aku memilih untuk memejamkan mata, alih-alih ada seseorang kakek/nenek yang sepertinya belum terlihat terlalu lanjut usia memintaku untuk bergantian.

Bukan karena aku tidak peduli, tapi hari ini cukup melelahkan kalau-kalau hal demikian terjadi. Mereka bisa jadi imbasnya, suasana hatiku sedang sangat tidak baik hari ini.

Cukup lama aku tidur, aku terbangun sebelum kereta yang ku tumpangi berhenti di stastiun tujuanku. Stasiun Tambun.

Sesampainya disana, aku berjalan cukup jauh karena aku memilih gerbong wanita yang paling belakang sedangkan pintu masuknya dekat dengan gerbong wanita yang paling depan.

Stasiun sudah cukup sepi, dan aku mengambil motor yang terpakir di halaman parkir stasiun.

Di perjalanan yang cukup ramai dan macet. Aku mengalami sedikit kendala. Banyak elf, angkot. bahkan tronton saling membunyikan klakson mereka bergantian. Belum lagi suara knalpot motor-motor yang sengaja diganti jadi knalpot yang sangat berisik.

Aku yang memiliki fonofobia (sensitif terhadap suara) langsung kehilangan fokus. Syaraf di otak dan telingaku merespon dengan sangat cepat hal-hal demikian.

Karena kehilangan fokus, aku tidak mampu mengendarai motor dengan benar sampai akhirnya aku menabrak mobil yang ada di depanku, dan langsung tak sadarkan diri.

***

Ketika membuka mata, aku melihat diriku ada di sebuah rumah sakit. Aku mengerjapkan mataku pelan-pelan dan mengingat apa yang terjadi barusan. Tiba-tiba kepalaku nyeri yang sangat amat menyakitkan.

Datanglah seorang pria membuka pintu rumah sakit dengan membawa tentengan plastik alfamart “Kau sudah siuman?”

Aku menengok ke sang pemilik suara “Ah?” Aku sangat kaget melihat pemilik suara itu adalah mantan kekasihku. Aku langsung membenamkan wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Masih sakit?”

“Tidak”

“Maafkan aku”

“Maksudmu?” Aku mencoba memikirkan apa yang sudah terjadi, “seingatku aku menabrak sebuah mobil. Itu mobilmu?”

“Iya, aku langsung membawamu kesini” Ucapnya sambil memindahkan beberapa makanan yang ia beli.

“Terima kasih. Maaf aku merepotkanmu”

“Tidak apa. Kau makan dulu”. Ucapnya sambil mengupas kulit pisang yang akan diberikan untukku “makanlah!”.

“Terima kasih”. Aku menerima buah pisang darinya.

“Saat kecelakaan, kau tiba-tiba tidak sadarkan diri. Setelah tahu itu kau, aku langsung membawamu kemari” Jelasnya

“Lalu motorku?”

“Temanku yang membawanya”

Ia mengambil tas yang ku bawa dan menyerahkannya padaku “Ah iya, tadi aku membuka ponselmu untuk menghubungi keluargamu. Nanti mereka akan datang”

“Sekali lagi terima kasih”. Aku tidak tahu harus menjawab apalagi selain rasa terima kasih.

“Dan, mmm. Aku membuka kontakmu, mencari apakah nomorku masih disimpan”

Aku langsung memelototinya, mendengar ucapan bodohnya.

“Ternyata sudah tidak disimpan. Tapi saat aku buka whatsappmu dan aku melihat arsipmu. Kau sama sekali belum menghapus percakapan kita yang terakhir, bahkan saat kita masih pacaran dulu”. Ucapnya dengan gaya khasnya yang ku benci.

“Ishhh, Apaan sih?”

“Aku juga berfikir kalau kau sudah punya kekasih baru. Tapi ternyata belum”.

Aku lebih memilih untuk menghabiskan pisangku dan pura-pura tidak mendengar ocehannya.

“Kau masih mencintaiku?”

“TIDAK!”

“Lalu apa alasanmu?”

“Bagaimanapun kita pernah bersama. Hanya itu”