Senin di minggu pertama ini di awali dengan cuaca yang sangat cerah. Jalanan Ibu Kota ramai dipenuhi masyarakat urban dan yang menetap di Ibu Kota untuk menyambung kehidupannya. Aku melirik arloji kecil di tanganku masih menunjukan pukul 6.30 tetapi polusi yang ditimbulkan dari asap kendaraan membuat pagi ini terasa menyesakkan.

Aku benci Ibu Kota, karena terlalu banyak kerumunan orang di setiap sudut kotanya. Entah itu di dalam bis, kereta, stasiun, halte bus atau di pusat perbelanjaannya. Aku benci keramaian!

Aku sudah berjanji kepada diriku, untuk sekali-kali saja mengunjungi Ibu Kota dan tidak menetap terlalu lama. Dan hari ini adalah hari pertama ku mendatangi Ibu Kota dan menetap disini untuk tiga bulan ke depan, demi melaksanakan tugas akhir kuliahku untuk menyandang gelar sarjana.

Memang Ibu Kota adalah pusat pemerintahan dan perekonomian berjalan, sehingga banyak perusahaan-perusahaan Start Up yang menyandang status Decacorn aktif disana. Dan aku memilih salah satu dari perusahaan Start Up yang ada disana untuk penelitian dan kerja lapanganku.

Jurusan kuliahku tidak ada kaitannya dengan teknologi digital dan aku sendiri pun awam terkait hal-hal yang berbau teknologi, tapi aku hanya perlu mempelajari hal baru disana yang berkaitan dengan bagaimana perusahaan itu berdiri dan beroperasional dan segala macamnya.

Aku melakukannya untuk membangun mimpiku yang ingin mendirikan perusahaan Start Up. Ya, itulah mimpiku!

Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini karena aku satu-satunya mahasiswi dari kampusku yang melakukan kerja lapangan sampai sejauh ini, dan aku harus belajar banyak disana agar tidak menjadi pemimpin yang penuh dengan kekosongan bila aku bisa mencapai mimpiku.

Walaupun nantinya aku tidak seberuntung mereka yang sudah mendirikan perusahaannya atau mencapai mimpinya, setidaknya aku sudah berusaha dan tidak perlu berjalan mundur.

Bukan berarti aku tidak mempercayai diriku dengan berikap pesimis, tapi aku mengimbangi antara emosi dengan ambisiku.

Aku hanya tidak ingin ketika tempatku bukanlah disana, kekecawaan yang mengendalikanku bukan aku yang akan mengendalikan kekecewaanku.

Itulah pikiran yang selalu terpatri dalam hatiku, supaya selalu tetap membumi, meski dunia ada di dalam genggamanku, aku tidak akan mencintainya. Semoga aku bisa menepati janji terhadap diriku sendiri dan tidak melupakannya.

… … …

Dari stasiun, aku memesan aplikasi ojek online sebagai sarana paling efektif untuk cepat sampai ke kantor. Aktivitas perkantoran di Ibu Kota di mulai pada pukul 8.00, dan aku berangkat lebih cepat Tiga Puluh menit dari rumah tanteku yang berada cukup jauh dari pusat Ibu Kota.

Jarak dari stasiun ke kantor sekitar 1.2 km dan hanya memakan waktu tidak sampai 15 menit bila tidak ada kemacetan. Mungkin kedepannya aku akan berangkat lebih pagi, supaya bisa berjalan dari stasiun ke kantor. Selain untuk memangkas biaya perjalanan, itu juga baik untuk kesehatanku dan tidak mengantuk saat bekerja.

Aku tiba disana, di sampingnya ada sebuah kantin, kantinnya pun cukup ramai dan banyak para staff dari perusahaan lain menyantap sarapan pagi mereka disana dan sedikit berbincang-bincang.

Karena aku tidak terlalu percaya diri untuk berjalan menyusuri kantin melihat apa saja yang dijual, aku hanya memilih makanan yang dijual dekat pintu masuk. Aku memesan bubur setengah porsi, dan menyantapnya pelan-pelan.

Selesai menyantap sarapanku, aku masuk ke dalam gedung pencakar langit yang diisi oleh beberapa perusahaan di dalamnya. Berjalan bersamaan dengan para staff lainnya menuju lift dan berhenti di lantai 11.

Tiba di lantai 11 aku duduk dekat tempat receptionist sambil menunggu jam masuk kantor. Sepertinya ini wilayah perusahaan PT. WeMarket Indonesia Tbk. Marketplace terbesar di Asia yang merentangkan sayapnya di dua negara Asia Tenggara yaitu Indonesia dan Singapura, yang kabarnya akan didirikan juga di Malaysia.

Aku bersyukur bisa diterima menjadi seseorang yang akan berkontribusi di perusahaan ini ke depannya, dengan persaingan yang ketat dan interview yang menurutku sungguh sangat rumit, aku terpilih menjadi salah satu yang beruntung di antara ribuan pesaing. Meski hanya menyandang status pegawai kontrak.

Selagi menunggu waktu masuk, aku menyusuri beberapa ruang bagian di dalam kantor itu. Interiornya benar-benar sangat modern dan menciptakan kesan work friendly. Ruang kerja yang aku impikan.

Sekali lagi aku melihat arlojiku menunjukkan lima menit lagi aktifitas dimulai, aku kembali mendatangi meja receptionist dan bertanya mengenai kemana tempat yang harus kudatangi lebih dulu.

“Pak maaf, saya anak magang baru disini. Saya dituju untuk ke divisi keuangan. Kira-kira saya harus kemana ya pak?”. Tanyaku menunjukkan Surat Keterangan yang kuterima via e-mail dan ku cetak.

“Baik bu, mari saya antar. Ikuti saya”.

Respon bapak receptionist dengan sangat ramah, mengantarku hingga depan ruang kaca yang tidak ada satupun kayu sebagai furnitur tambahan.

“Terima kasih banyak pak”.

“Sama-sama bu”. Pamit bapak itu, meninggalkan ku.

Aku masih berdiam disana karena harus memberanikan diri menyapa pegawai disana. Tidak cukup banyak, dan mereka sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, ada yang sibuk membuat kopi, menyeruput kopi, yang wanitanya pun ada yang mengoles make upnya.

Ketika keberanianku sudah terkumpul dan ingin melangkahkan masuk ke dalam ruangan yang hanya berlapis dengan kaca, tiba-tiba aku melihat mereka mulai merapihkan diri masing-masing seperti memasang formasi untuk menyambut seseorang.

Apa sudah masuk kerja?

Tiinggg… Suara pintu lift terbuka.

Terdapat seorang pria muda, berwajah tampan, berkulit putih dan dengan postur tubuhnya yang tinggi dan memiliki pundak yang bidang dia tampak sangat sempurna mengenakan setelan jas yang ia kenakam hari ini. Walaupun tanpa ada satu senti pun senyuman yang tersungging dari bibirnya. Dengan tatapan datar dan langkah kakinya yang panjang, pria itu melewati kami begitu saja. Diikuti dengan tiga orang lelaki di belakangnya. Aku masih memperhatikan dirinya hingga hilang di balik pintu ruang kerjanya.

Aku mengalihkan pandanganku, dan segera memasuki ruang kerja tadi bertanya asal kepada wanita yang tidak ku kenal.

“Permisi bu, maaf saya anak magang baru disini. Apa yang pertama harus saya lakukan ya bu?” Tanyaku sedikit gugup dan dengan sangat sopan.

Karena bicara dengan wanita sangatlah sensitif, apalagi di awal pertemuan seperti ini. Aku harus mengupayakan first impression yang baik, supaya ke depannya akan memudahkanku beradaptasi di lingkungan ini. Meski ini bukanlah diriku yang sebenarnya.

“Oh ya? Siapa namamu? Saya Mawar, Kepala Bagian divisi keuangan disini”. Tanya balik dari wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Mawar.

Agak sedikit menyebalkan, karena pertanyaanku tidak dijawab oleh bu Mawar, dia memperkenalkan dirinya dan menanya balik padaku. Apa dia tidak mengerti perkataanku?Aku benci basa-basa seperti ini. Aku benci namaku!

“Haebitna bu, bu Mawar bisa panggil saya Hae, barangkali bu Mawar sedikit kerepotan kalau memanggil lengkap nama saya”. Jawabku dengan senyum setulus yang ku bisa. “Maaf bu, di hari pertama saya, apa yang harus saya lakukan ya bu?” Tanya ku kembali, dan mempertegas kalimatku tetap dengan nada bicara yang sopan.

“Kita doa pagi dulu yuk Hae”. Ucap bu Mawar seraya memberi isyarat untuk mengikutinya berkumpul bersama pegawai lainnya yang sudah membentuk lingkaran lebih dulu.

Kemudian, keluar sosok yang tadi ku lihat di pintu lift. Masih dengan wajah datarnya dan tatapannya yang tajam. Pria itu memilih posisi berdiri beberapa meter di sisiku.

Acara doa pagi dimulai dipandu dengan seorang pria berusia awal 40 tahun, dengan sangat khidmat. Selesai berdoa, pria yang berlaku sebagai seorang manajer mengevaluasi kinerja kemarin dan memberi beberapa masukan dan motivasi kepada para bawahannya untuk berusaha lebih baik lagi dan meningkatkan pencapaiannya.

Pria tadi menawarkan si sosok yang ku lihat depan pintu tadi untuk menyampaikan beberapa sambutan, tapi dia hanya merespon dengan singkat dan mengakatan, cukup segitu saja!

“Baiklah sebelum saya menutup doa pagi ini, divisi kami kedatangan anak magang baru untuk melakukan penelitian dan kerja lapangan di perusahaan ini. Bisa perkenalkan diri kamu neng?”. Ucap pria itu, dan mengoper mik nya untukku.

Dengan gugup aku menerima mik itu, dan mengambil nafas panjang supaya bisa berbicara dengan tenang.

“Selamat pagi semuanya, bapak ibu sekalian yang saya hormati. Perkenalkan nama saya Haebitna, dan nama panggilan saya Hae, barangkali bapak ibu sekalian sedikit kerepotan memanggil nama saya dengan lengkap. Saya dari Institut Brawijaya, Bandung. Dan akan melakukan penelitian dan mmm untuk 3 bulan ke depan. Mohon bimbingannya, terima kasih”.

Aku melupakan kalimat yang tadi sudah kusiapkan, kenapa aku bisa segrogi ini berbicara di depan umum. Bahkan jika ini pertama kalinya, aku tidak pernah seburuk ini, sampai tanganku berkeringat. Untuk pertama kalinya, persiapanku lebih buruk daripada spontanitas.

Aku menarik nafas panjang, dan sebentar memejamkan mata untuk menengkan diriku. Aku melakukannya sesunyi mungkin agar tidak menjadi sorotan. Ketika membuka mataku pelan-pelan, aku bertemu dengan sepasang mata yang sedari tadi mungkin memperhatikanku dengan senyumnya yang menurutku, sangat mengerikan.

“Apa ada lagi rekan-rekan sekalian yang ingin disampaikan?” Tanya Pak Manajer memastikan bahwa doa pagi sudah selesai, dan siap untuk memulai aktifitas rutin kami. “Baik jika sudah tidak ada, saya tutup doa pagi ini. Sekian dan terima kasih. Hwaiting!”.

“Hwaiting!!!” Sorak bersama penuh semangat seluruh pegawai dengan mengepalkan tangannya dan mengangkatnya, kemudian bubar ke meja mereka masing-masing. Lagi-lagi ku dapati diriku yang tidak tahu harus melakukan apa.

,,, ,,, ,,,

Kategori: Story

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *