Cinta Pertama itu – Part 2

“Bos gue emang bos yang paling hebat”, sapa Giselle saat mereka hendak menuju lift. Hari ini Giselle hanya memakai pakaian formal dan tidak terlalu menohok seperti biasanya. Mungkin karena hari ini ia kesiangan.

Giselle memang bukan sahabatnya, teman sedari kecil pun bukan. Ia bertemu Giselle dua tahun lalu, saat dirinya ditemukan mengenaskan ketika berpisah dari Jeno.

Giselle memang seorang wanita yang supel dan mudah bergaul meskipun baru saling kenal. Meski begitu, dia tidak begitu menyebalkan seperti orang-orang pada umumnya. Prinsipnya, dia harus bersikap normal kepada siapapun. Ia benci hal-hal yang berlebihan, kecuali dalam urusan fashion.

“Kesiangan lo ya?” Balas Winna.

“Bukannya lo ada kegiatan sosial di panti, ya? Atau kapan? Eh gak tau deng, gua ngasal”

“Iya, ada Gis. Lo ma..” belum selesai Winna melanjutkan perkataannya, Giselle sudah memotongnya lebih dulu “Eh, lupain soal ini. Gue ada berita yang gak boleh lo lewatin” Si biang gosip mulai lagi. “Berita apa, Gis? Plis kali ini jangan biarin gue dengar gosip yang gak masuk akal dari lo. Gue udah badmood banget dari pagi”

“Kali ini beritanya bombastis Win” Pintu lift lantai 6 terbuka, beberapa orang hendak keluar dan sebagian lagi masuk. Winna yang berdiri dekat tombol lift, membantu menahan agar pintu itu tidak tertutup. Melihat sudah tidak ada lagi yang keluar dan masuk, Winna menatap Giselle “Lo gak turun?”

“Gue ikut sampai atas boleh ya?” Tanyanya ragu-ragu. Winna akhirnya melepas tangannya dari tombol lift tersebut dan membiarkan pintu itu tertutup dan kembali melaju ke atas.

“Mau ngapain?”

“Ini penting banget sih, gak bisa dinanti-nanti”

“Lo emangnya gak dicariin sama Kadiv lo?”

“Dicariin mah pasti, tapi kalo gue jawab dari ruangan CEO mungkin Pak Haykal gak akan marah. Lagi juga selain lo seorang CEO yang harus disegani, dia juga kagum sama lo sebagai sosok perempuan”. Ucapnya enteng, tidak memperhatikan orang lain yang sedang memperhatikan interaksi keduanya.

Jabatan sebagai CEO tidak pernah membuatnya merasa berbeda dengan karyawan lainnya. Sesungguhnya semua orang adalah buruh dari ambisinya masing-masing. Tanpa karyawannya, ia tidak lebih dari seorang Winna yang hanya mengandalkan kekayaan kedua orang tuanya.

“Suka seenaknya aja lo ya”

Sepersekian menit akhirnya mereka tiba di lantai 25, ruang kerja sahabatnya. Ya, Giselle memang menganggap Winna sebagai sahabat, tidak tahu label apa yang dicap untuk dirinya, intinya Giselle senang hanya dengan mendengar keluhan-keluhan darinya, saat ia tidak berani mengatakan pada orang lain. Untuk saat ini, Giselle lah yang paling mengerti Winna, bahkan tanpa harus Winna berbicara banyak sekalipun.

“Jadi, tadi gue ketemu Jeno”.

Deg. Hati Winna mencelos saat nama itu kembali disebut, melayang di udara dalam ruangannya. Itu akan merepotkan, karena ia harus membersihkan nama-nama yang melayang itu agar dia tidak banyak memikirkannya lagi.

“Mantan lo”. Giselle langsung menutup mulutnya, ia tidak sengaja melepaskan kalimat itu, sedari tadi ia berusaha menahannya, datanglah tatapan tajam dari lawan bicaranya.

“Gak usah sebut gelar kenapa si” Ketus Winna.

Muncul keheningan di antara mereka berdua, Giselle melihat tatapan sinis yang Winna lemparkan padanya kini berubah menjadi tatapan kosong. Berusaha seolah-olah Giselle menyelami pikiran Winna, ia menduga bahwa Winna belum seutuhnya melupakan sang mantan kekasih.

“Lanjut Gis, Jeno kenapa?”

“Lo ngucapin dia ulang tahun?” Selidik Giselle dengan tatapan menyelidik. Entah mengapa ia benci dengan Jeno karena menceritakan hal tidak penting ini kepada orang lain.

“Mungkin ini kali ya yang orang-orang sering bilang ‘cinta pertama itu paling susah buat dilupain'” Giselle menggantungkan ucapannya, tatapannya menyapu seluruh isi ruangan “sebenci, sejijik atau apapun itu lah namanya, sebenernya lo gak pernah serius ngelupain dia kan? Ya buktinya hal kecil, kayak lo ingat tanggal ulang tahunnya aja masih ada dipikiran lo. Awalanya juga gue gak percaya si kalo lo udah hapus semua kontak dia, tapi lu selalu kekeuh kalo kontak Jeno udah lo hapus, akhirnya gue percaya deh. Tapi ngedenger apa yang belum lama terjadi, gue jadi ragu”

“Ragu apa Gis? Gue juga ingat karena ada pengingat di handphone gue tadi. Waktu jam 4, itu pengingat nyala mulu. Ganggu gue tidur”. Jelas Winna mencoba berkelit dari pernyataan yang diajukan Giselle, selagi ia tidak berbohong, berkelit dan menghindari percakapan ini tidak berdosa.

“Oke kalo emang lo ingat dari pengingat di hp lo. Bisa jelasin gak, kenapa harus sampai diucapin ke orangnya?”

Kini pertanyaan Giselle dan sosok Jeno-lah yang berenang-renang dalam pikirannya. Ia tidak habis sangka bahwa pertanyaan yang Giselle ucapkan dari tadi membuat dirinya tertusuk ribuan jarum dan menghadapkannya pada kenyataan bahwa rasa itu memang masih ada.

Melihat Winna yang tidak menggubris, Giselle akhirnya membuka kembali suaranya “Gapapa Win, gue paham banget perasaan lo. Emang bocah bego kayak lo, gak bakal bisa jawab apa-apa. Palingan cuman bisa sewot”

Mendengar cemoohan Giselle. Winna tidak tanggung-tanggung melemparkan bantal sofa padanya “Justru yang banyak omong kayak lo yang sering keliatan dangkalnya”. Sarkas Winna.

Giselle sangat paham bahwa Winna tidak pernah berkata hal-hal yang baik. Meskipun dengan nada datar, ucapan sarkasnya selalu berhasil mematikan serangan lawan bicara.

“Terus lo jawab apa tadi?” Tanyanya, untuk menebus rasa bersalahnya tadi.

“Gue jawab aja ‘mana gue tau'”

“Serius lo jawab itu aja? Biasanya kan lo selalu pingin tau segala hal”

“Serius” Ucapnya mantap.

Good, bestie” Puji Winna tak lupa untuk menyertakan smirknya.

“Gue senang akhirnya lo mau buka suara buat kasih pujian ke orang lain. Tapi kenapa malah jadi ngeri, ya? Haha”. Godanya dan segera beranjak dari sofa yang ia duduki, berniat untuk segera kembali ke ruangannya “Gue balik dulu ya. Takut Pak Haykal butuh gue”.

“Hmm, makasih yaa”

“Yoo”

Terdengar Giselle sudah menutup pintu ruangannya, artinya Winna sudah benar-benar sendiri dalam ruangannya, dan pikirannya sibuk berkutik dengan sosok Jeno.

Postingan Sebelumnya

Part 2 sudah di update yaaa, semoga sukaa. 2 part lagi cerita ini selesai huhui, kan namanya juga karangan pendek wkwk.

Salam 💚