Chapter 3 – A Long Day

Hidup ini panjang, dua jam dari sepanjang hidup ini sangatlah singkat. Jam-jam produktif sudahlah berlalu. Masyarakat sudah mengambil alih peran lainnya, saat pagi menjadi seorang bawahan dan malamnya menjadi sosok kepala keluarga. Layaknya tokoh utama dalam drama yang bisa menjalankan dua peran, bumi ini tidak pernah beristirahat dari segala perputaran waktu pagi dan malam sekaligus.

Chapter Sebelumnya

Drrrttttt! Ponselku bergetar dari dalam tasku. Aku melihat ada panggilan dari layar ponselku “Calling, Pak Joe”

“Halo pak”

“Il, sudah sampai dimana?” Tanya Pak Joe dari sebrang sana.

“Saya sedang menuju kantor, Pak. Semua sudah saya jalankan dengan baik, Pak. Apa ada masalah lagi?”

“Aihh, posisi kamu ada dimana?” Jawab Pak Joe yang sedikit marah. “Kamu, kalau belum jauh dari Kedai cabang Thamrin coba dulu mampir kesana ya! Seperti ada hal yang aneh dari toko sana. Penjualan kopinya meningkat tetapi produksi kopi dari pusat menurun, kamu datang kesana dan temui manajernya. Kebetulan dia sedang jaga disana!”

“Tapi ini sudah masuk jam pulang kerja, Pak!”

“Hei! Kamu hanya perlu melakukannya saja, sulit? Hah?”

“Tidak”. Langsung ku matikan telepon dari manajer sialan itu, dengan enaknya dia menyuruhku di waktu yang seharusnya pekerjaanku ini sudah selesai. Tidak peduli besok dia akan berkata kasar seperti apa, ini adalah waktuku. Kebebasan ini milikku, bukan milik perusahaan. Lagi pula ini bukan cabang kedai yang harus kuurus, seenaknya saja.

Selama menjadi pegawai, perkataanku sering tidak seirama dengan perbuatanku. Meskipun aku kesal dan menggerutu, tanpa sadar aku memasukkan kembali sandal jepitku ke dalam tas dan menggantinya dengan sepatu heels setinggi tiga senti serta merapihkan penampilanku yang berantakan dan menambahkan sedikit bedak di mukaku yang sudah sangat kusam. Astaga Il. Gembel banget si muka lo!

***

Sore ini, kedai kopi cabang Thamrin tampak ramai dipenuhi oleh pengunjung, semua kursi sudah dimiliki oleh pemilik sementaranya. Tanpa basa-basi, aku langsung bertemu dengan manajernya, supaya aku bisa cepat menyelesaikan pekerjaanku dan istirahat di rumah.

“Penjualan bulan ini meningkat, tapi kamu hanya beli sedikit bahan baku dari pusat. 3 bulan yang lalu, toko ini memesan 80 kg bubuk kopi selama dua bulan berturut-turut, sebulan yang lalu menurun jadi 65 kg, dan bulan ini hanya 50 kg bubuk kopi saja. Jadi apa yang aneh antara laporan penjualan toko kamu yang seharusnya butuh banyak bahan baku hingga 80 kg atau lebih?” Jelasku sembari meneliti ulang mesin kasirnya.

“Hei, itu hanya kesalahan kecil dari pencatatannya saja, Bu Il. Manusia saja bisa salah Bu, apalagi mesin yang dioperasikan oleh manusia juga”.

“Benar” Melihat ekspresi senyum dari manajer toko ini, sepertinya sangat puas karena dia merasa berhasil dengan pembelaannya. “Tapi, saya belum pernah melihat mesin berbohong kalau tidak dipalsukan datanya oleh manusia, Pak”. Ku tunjukan senyum andalanku yang sering kupadukan dengan kalimat sarkasku.

Aku berjalan menuju gudang, untuk memastikan apakah dia menggunakan produk dari perusahaan kompetitor yang menyediakan bahan bakunya lebih murah atau tidak?

“Bu Il! Tunggu, kita sudah lama saling kenal kan? Kau tidak percaya denganku?” ucap si manajer toko dengan keras sambil mengejar langkahku. Dan benar saja, saat aku sampai di gudang, aku melihat kardus kopi dari perusahaan kompetitor. Sejak 2 bulan yang lalu, toko ini sudah banyak memesan dari perusahaan kompetitor lebih dari 70 kg bahan baku kopi bubuk.

“YA! Saya memang tidak banyak lagi mengambil bahan baku dari pusat, karena harganya mahal! Dan perusahaan lain memiliki harga yang lebih murah, sedangkan target harus saya kejar supaya bisa dapat penilaian baik dari pusat,” Dengan marah, manajer toko ini langsung mengakui kesalahannya. Wah, dia cepat sekali marahnya bahkan sebelum aku meminta dia untuk memberikan klarifikasi.

“Sudah? Puas? Silahkan beri laporan yang buruk lagi tentang cabang ini! Saya tidak peduli, saya akan membatalkan kontrak waralaba ini dengan pusat!” Ucapnya lagi dengan nada tinggi, lalu pergi dan menjatuhkan beberapa kardus sehingga membuatku tersungkur ke tanah bersamaan dengan kardus-kardus itu. Ah, sialan! Sakit banget!

Kalau bisa memilih dengan siapa saja aku harus berbicara, aku lebih baik berdebat dengan anak remaja yang labil daripada sama orang yang lebih tua dariku. Lagi-lagi aku harus mengalah karena aku benar. Jika tidak ku lakukan, ini hanya akan menguras tenaga dan pikiran.

***

Hari sudah gelap. Aku harus mampir terlebih dulu ke kantor untuk mengisi absen pulang. Kantor mungkin sudah sepi, karena banyak pegawai yang memiliki dua peran dalam sehari, pasti sudah pulang lebih sore. Sesampainya disana, aku langsung merapihkan meja kerjaku dan ketika hendak keluar,

“Il, langsung balik?” Sosok suara mengagetkanku, di tengah gelapnya ruangan dan mencari si pemilik suara. Ah, ternyata itu Lily. Teman kantorku yang sebaya denganku.

“Eh kaget! Gua kira udah gak ada orang lagi. Lagi juga lu ngapain disini gelap-gelap, sendirian?”

“Gue lagi nunggu pacar gue. Haha!” Ucap Lily dengan tampang tak berdosanya.

“Lagi?” Lily hanya menjawab dengan sekedipan matanya, sambil mengunyah wafer yang sedang ia makan.

“Ah, itu dia!” Ucap Lily mengarah ke arah lain dan aku membalikkan badanku, mengikuti kemana arah matanya. Ternyata pacarnya, sudah tiba di ruangan ini.

“Hmm, oke deh. Selamat menikmati malam kalian berdua ya! Jangan ceroboh ya. Haha”. Aku hanya memberikan sedikit pesan untuk mereka berdua dan meninggalkannya.