1095 – Look Again

Stasiun MRT Bundaran HI dipadati oleh masyarakat urban yang akan berangkat bekerja, bahkan di saat hujan pun, aktivitas pagi ini sama terlihat padatnya. Hujan memang bukan menjadi alasan untuk libur bekerja, mengingat ada keluarga yang harus diberi makan.

Setelah turun dari MRT aku berjalan santai di antara orang-orang yang saling mendahului, bahwa waktu terus berjalan agar tidak terlambat sampai di kantor, bahkan elevator stasiun tetap padat. Hujan sudah reda, dan menyisakan gerimis-gerimis kecil. Meskipun aku membawa payung, kalau hanya sekedar geremis kecil, bajuku tidak akan basah karena menerobos gerimis ini.

Jarak dari stasiun ke kantorku tidak cukup jauh, hanya 100 meter saja. Namun waktu sudah menunjukan 07.30 setidaknya aku sudah harus sampai disana pukul 07.45, dengan hati-hati aku berlari-lari kecil di jalan yang licin, memanfaatkan sisa waktu yang ku punya agar bisa sampai disana tepat pada pukul 07.45.

Di hari biasa, pukul 07.30 aku sudah stand by di kantor. Hanya saja, perkiraan cuaca hari ini tidak tepat, yang seharusnya hari ini cerah ternyata malah turun hujan, sehingga mengakibatkan terlambatnya waktu keberangkatan kereta MRT yang biasa aku tumpangi.

Sesampainya di lobby kantor, aku harus menaiki lagi lift hingga lantai 7. Sisa waktuku hanya 2 menit, semoga menunggu lift nya tidak sampai memakan waktu sebanyak itu, atau semoga saja bisa lebih cepat daripada perkiraanku.

Tingg   !! Bahkan pintu lift langsung terbuka setelah aku memikirkannya. Tidak pakai lama, aku langsung memencet lantai 7, ruangan dimana aku akan bekerja. Setelah lift terbuka dengan sempurna di lantai 7, aku segera menempelkan ibu jari ku di finger print depan ruanganku sebagai tanda kehadiranku.

“Pagi pak”. Dengan memberi hormat kepada manajer ku. Bergegas aku menuju mejaku kemudian merapihkannya serta merapihkan kembali penampilanku sebelum aktivitas dimulai.

***

“Kerjakan yang kita bahas tadi” Ucap Pak Joe selaku manajer operasional seraya mengakhiri rapat mingguan ini.

“Baik, pak”

Aku ditugaskan untuk mengawasi toko kopi daerah Sudirman untuk menegur beberapa pegawai yang tidak menaati aturan, manajer tokonya pun tidak dapat menangani hal tersebut. Karena pekerjaanku sebagai supervisor, terpaksa aku harus menegur kembali manajer toko di Cabang Sudirman ini.

Coffee Shop

Source : Pinterest

Pukul 13.00 aku tiba di toko tersebut, karena siang yang sibuk sudah selesai. Semua pegawai kantor yang memilih untuk beristirahat di coffee shop sudah kembali dengan aktivitasnya masing-masing. Tak banyak melakukan basa-basi, aku langsung mengelilingi area layanan rumah yaitu tempat untuk mesin kasir, peralatan espresso dsb. Aku merekap ulang kembali perhitungan penjualan bulan ini dan memeriksa sikap dan attitude pegawainya.

“Kenapa disini berdebu banget ya?” Sambil kusentuh layar computer kasir, dan memeriksa loker penyimpanan kopi. Sedangkan, pegawai yang lain melakukan yang sudah kulakukan tadi untuk memastikan, apakah benar layarnya berdebu? Kemudian mereka langsung mengelap kaca etalase yang berisi kue-kue kering.

“Nanti, sebelum pulang jangan lupa buat ngebuang semua bahan-bahan yang sudah hampir kadaluwarsa ya”. Jedaku sebentar “Dan hmm, jangan lupa juga bersihin semua tempat yang sudah saya tandai ya. Jangan sampai, penilaian toko kalian dinilia jelek sama pusat”.

“Baik, bu”.

            Oh Tuhan, aku ini masih sebaya dengan kalian. Andai kalian tahu umurku, aku berharap kalian tidak lagi memanggilku, Bu.

Aku mengamati tiga pegawai paruh waktu yang ada di depanku. Dan lagi-lagi mereka melakukan pelanggaran, memakai cincin, ada juga yang memakai sepatu hak tinggi dan parahnya ada yang menyimpan ponselnya di bawah mesin kasir. Lagi dan lagi.

“Selama ini, kamu belum melatih pegawai paruh waktumu dengan baik, bukan? Kamu harus mengingatkan mereka kembali tentang hal-hal yang seharusnya sudah jadi peraturan. Dan, kamu juga, bersikaplah dengan pantas. Aku juga sama denganmu, dengan kalian-seorang wanita. Dimana ingin terlihat tinggi dan punya badan yang bagus. Tapi apa tidak membahayakan juga kalau kamu pakai sepatu hak tinggi di lantai yang licin, sedangkan kamu harus jalan dengan cepat. Aku hanya tidak ingin kalian berbuat memalukan di depan pelanggan”.

Aku mengatakannya dengan lembut dan mempertegas bagian yang seharusnya diucapkan dengan intonasi nada yang marah-marah. Sengaja kuucapkan dengan menaikan satu oktaf suaraku, agar ucapanku tidak hanya sebagai sebuah obrolan dengan manajer toko, tapi juga sekaligus untuk tiga pegawai yang mendengarkanku.

“Bu Il, anak-anak sekarang susah sekali untuk mendengarkanku. Dan aku harus bilang terus-menerus kepada mereka, aku seperti kaset rusak mengingatkan mereka hal seperti itu lagi”.

Wahh, aku tidak menyangka dengan jawabannya. Ku tatap matanya dua detik “Lihat lagi bagaimana perlakuanmu selama bekerja!”. Kali ini aku sudah memulai bicara sedikit sinis, tapi masih bisa ku tahan amarahku untuk tidak meluapkannya.

Bacaan Sebelumnya : Chapter 1

Kategori: 1095Uncategorized

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *