1095 – Past

Apakah rutinitas pagi ku bisa di ubah? Aku benci sekali pagi yang seperti ini, dihiasi dengan gerimis-gerimis kecil, dan udara yang sejuk yang sudah pasti menghambat aktivitasku untuk berangkat bekerja. Dan lebih parahnya lagi, aku melihat adikku yang masih lelap tertidur dibalik selimutnya dan bisingnya suara alarm yang sudah dia pasang untuk bangun tapi tidak juga dimatikan olehnya. Sungguh, membuat moodku di pagi hari ini sangat-sangat hancur.

“Elard! El! Bangunnn!!” Teriakku dari bawah. Biasanya, kalau dalam rentang waktu 5 menit El  belum juga bangun setelah mendengar teriakku, itu tandanya dia harus siap menghadapi masalah besar, karena teriakankulah satu-satunya alarm yang tidak bisa dimatikan olehnya.

Belum sampai 5 menit teriakanku mengudara di ruangan rumah, aku sudah melihat El berjalan dengan langkah yang sangat lamban sedang menuruni tangga.

“Kalo gak bisa bangun pagi, ya jangan tidur pagi. Kebiasaan banget! Ini sarapannya, jangan lupa dimakan. Uang yang minggu kemarin gua kasih masih ada, kan?” Gerutuku, sambil mengecek kembali isi tas kerjaku.

“Iya, masih ada”. Jawab El memelas.

Dia tidak akan berani untuk meminta uang mingguannya karena hari ini ia tidak bangun pagi. Semakin dewasa, El semakin tidak ingin membuat perdebatan kecil di pagi hari. Baguslah!

“Yaudah, gua berangkat dulu yaa”.

“Iya, hati-hati”.

Kalau bukan dia satu-satunya keluarga yang ku punya, sudah ku pastikan bahwa aku tidak akan repot-repot mengurusi hidupnya. Seperti, menyiapkan sarapan di pagi hari sebelum aku berangkat kerja meskipun dia belum juga terbangun dari mati sementaranya.

***

Hai, aku Ileana Kimi. Aku bukanlah satu-satunya manusia yang besar dan tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Kalau boleh aku membandingkan nasib, mungkin masih banyak manusia lain di luar sana yang jauh kurang beruntung daripada aku. Takdir tidak memiliki orang tua semasa kecil sudah ku terima sejak 20 tahun yang lalu. Ya, saat aku berumur 4 tahun, bisa dibayangkan betapa kecilnya aku harus mengurus dan menafkahi diri sendiri bersama adikku yang kala itu berumur 9 bulan.

Tidak akan ada yang baik-baik saja, melihat seseorang yang disayang meninggal. Mungkin aku bisa memaafkan adikku yang menjadi penyebab kematian ibuku yang tidak terselamatkan saat melahirkannya. Untuk penyebab kematian Appaku, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya. Aku masih mengutuk diriku sendiri setiap harinya.

Baca Juga : Foreword by 1095

Duapuluh tahun lalu, dimana pagi itu langit sangat cerah dihiasi dengan gumpalan awan dengan bermacam-macam bentuk. Hari ini adalah 100 hari mendiang Ibuku, kami tidak mempersiapkan apapun untuk memperingati hari kematiannya hanya ada rencana untuk mengunjungi makamnya dan mendoakannya disana.

Appaku sedang beristirahat setelah akhirnya adikku bisa tertidur dengan nyenyak, dan aku sedang menikmati sarapanku sambil menikmati lagu-lagu anak tahun 90an dari tape recorder. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku langsung mengampiri Appa yang sedang membaca koran.

“Appaa!!” Teriakku dari jauh, sambil berlali menghampiri Appaku.

“Iya Il, ada apa? Jangan lari-larian, nanti jatuh!”

“Appa, Il mau beli balok-balokan yang kayak gedung itu Pa, yang warnanya ada warna merah, hijau, kuning pah. Yang kalo dimainin kita lepas salah satu baloknya gitu Pa, terus ditaro balok yang paling atas Pa, terus nanti kalo baloknya roboh itu artinya kalah. Yang kayak gitu Pa. Apa itu Pa namanya? Hmm, Il lupa”. Jelasku dengan polos, namun bisa dipahami maksudnya oleh Appaku.

“Itu namanya UNO, nak. Emang kamu bisa mainnya?”

“Bisa Pa, kalo gak bisa berarti aku gak tau”.

“Yaudah besok kita beli, yaa”.

“Gak maauuuu! Maunya sekaranggg!” Aku berusaha merengek, agar Appaku segera membelikannya di hari itu juga.

“Il, kesini deh! Appa punya rahasia”. Ucap Appaku, dan dengan antusias aku mengikuti Appaku yang berjalan menuju ke sebuah pintu yang terlatak sejajar dengan lantai. Ternyata ada ruang bawah tanah di dalam rumahku, aku semakin penasaran dengan rahasia yang dimiliki Appaku.

Setelah membuka pintunya Appa menuruni satu anak tangga yang terbuat dari kayu jati. Masih sangat kokoh, sepertinya ruangan ini belum lama dibuat. Tak lama, Appa langsung menggendongku dan memasuki ruangan bawah tanah itu, karena di bawah masih sangat gelap jadi Appaku menghindari kecerobohanku bila nanti aku tidak sengaja melangkahi satu atau dua anak tangga.

Ternyata ini hanya ruang bawah tanah biasa, kosong dan hanya ada satu kursi kayu yang sedikit berdebu. Appa, aku fikir ini adalah sebuah gudang. Lalu, rahasia apa yang akan diberitahu oleh Appa?

“Il, coba kamu duduk disitu dulu Nak”. Ucap Appa menyuruhku untuk duduk di kursi kayu tersebut. Aku hanya mengikuti perintahnya dan tak membalas kalimat apapun.

“Di bawah kursi kayu ini, kalau kamu buka itu ada sedikit asset yang dimiliki oleh Appa dan mendiang ibu kamu”,

Refleks aku menggeser kursi yang kududuki untuk mencari tahu ada sesuatu apa di balik kayu yang Appa bilang ini.

“Jangan dilihat sekarang! Kamu perlu ini suatu saat nanti. Buka kayu ini, di saat kamu sudah memerlukannya. Hah? Il paham maksud Appa, kan?”

“I-iya”.

“Anak Appa memang pintar”. Ucap Appaku dengan lirih yang hendak memakasakan senyumnya sambil mengelus puncak kepalaku. Mengapa Appa bicara seperti ini, seolah-olah ia akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi.

Hatiku sakit sekali melihat Appa seperti itu. Aku tahu betapa hancur dan remuknya hati Appa karena ditingal oleh Ibu lebih dulu, tapi Appa sangat pandai menyembunyikan perasaannya dan berusaha menjadi sosok Appa yang tegar dan seolah-olah membuat semua ini akan berjalan baik-baik saja.

Aku benci kepura-puraan.

Aku benci seseorang yang berpura-pura tegar, berpura-pura bahagia, berpura-pura sedih, ataupun berpura-pura baik. Kenapa harus dilakukan secara pura-pura? Padahal kan, perasaan bahagia, sedih, dan perasaan lainnya ya dikeluarkan saja secara alami.

Dengan menyembunyikan kesedihan, kesulitan dan kepayahan yang sedang dialami, mungkin saja itu bisa berhasil untuk menipu dunia tapi apakah bisa seseorang sampai tega membodohi hatinya sendiri? Aku ingin melihat Appa hidup dengan keinginan hatinya. Aku berharap di lain waktu aku mampu untuk mengatakan ini. Pun, sampai saat ini belum bisa ku sampaikan maksudku, dan tak akan pernah bisa.

Di umurku yang kala itu masih sangat kecil, mana mungkin omongan ku bisa didengarkan. Alasannya sangat klise “Anak kecil mana bisa mengerti perasaan anak dewasa”. Justru, karena kalian orang dewasa yang sudah merasakan hidup sebagai anak kecil bisa faham apa yang dikatakan anak kecil, anak kecil memang lebih banyak jujurnya. Kalau sedih ya menangis, senang ya tertawa. Dan kalau orang dewasa tidak setuju karena merasa sedang digurui oleh anak kecil, ya sudah anggap saja ini omongan ngawur.

***

Kategori: 1095

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *