Birthday Boy – Part 1

Pukul 04.00 alarm di ponsel Winna terus berbunyi, sementara Winna masih terbaring pulas di tempat tidurnya, masih terlalu pagi untuk bangun dan siap-siap untuk bekerja.

Apalagi hari ini adalah hari Jumat, lebih enak untuk bermalas-malasan karena besok adalah weekend. Lagipula, tidak biasanya Winna memasang alarm pukul 4 pagi, paling pagi pun ia pasang pada pukul 05.00, meskipun pada akhirnya ia tetap terbangun pada pukul 06.00.

Selama 15 menit, alarm di ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Biasanya pun ia menyetel alarmnya paling lama berbunyi sampai lima menit dan memberi jeda untuk berbunyi kembali 15 menit kemudian.

Akhirnya ia pun bangun karena terganggu dengan suara yang tak kunjung berhenti, saat Winna menatap layar ponselnya dengan samar, ternyata itu bukan alarm yang setiap hari ia pasang, melainkan pengingat ulang tahun mantan kekasihnya, Jeno!

Nyawanya langsung terkumpul bahkan sebelum Winna duduk dan menatap layar ponsel kedua kalinya untuk memastikan kembali.

Ah kenapa sih? Perasaan udah putus 2 tahun yang lalu, dan udah gak ngerayain ulang tahun dia selama 2x. Batinnya.

Dengan sisa waktu yang Winna miliki untuk tidur, Winna melempar ponselnya menjauh dari tempatnya tidur dan tidak memperdulikan pengingat yang menganggu tidurnya.

Usaha untuk memanfaatkan kesempatan tidurnya berujung sia-sia, Winna terus memikirkan bagaimana bisa pengingat itu masih ada di ponselnya? Padahal tahun lalu, Winna sama sekali tidak ingat dan melewati hari ulang tahun sang mantan begitu saja.

Tahun lalu gue ngapain ya? Dari semenjak putus kan gue udah gak ngotak-ngatik apapun lagi tentang Jeno. Foto bareng dia udah gue hapus, kontaknya juga, tanggal anniversary yang gue simpen di memo juga udah juga. Terus kenapa tiba-tiba memonya masih ada di hp gue? Aahhh Jeno, sialan!

Winna terus membuat beberapa pertanyaan di kepalanya dan dijawab oleh dirinya sendiri, namun tak kunjung menemukan jawaban pasti dari mengingat dan membuka kembali memori lamanya. Sampai akhirnya ia disadarkan oleh bunyi alarm yang kembali berdering di ponselnya, menunjukkan bahwa saat ini sudah pukul 5 pagi.

Sadar atas tindakan bodohnya, ia merutuki dirinya, dengan dua alasan :

Pertama, usahanya mengalihkan semua ingatan tentang Jeno akhirnya ia bongkar atas kekonyolan dirinya sendiri.

Kedua, ia baru tidur 2 jam yang lalu, dan ia melewati kesempatan tidurnya yang tersisa meskipun hanya 30 menit.

Ia pun segera bergegas ke kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja.

Semenjak putus dari Jeno 2 tahun yang lalu, Winna belum pernah mengganti ponselnya. Jangankan sebelum putus, saat masih pacaran -eh bahkan sebelum pacaran- dengan Jeno, Winna masih menggunakan ponsel yang sama.

Meskipun sudah berkali-kali temannya mengejek soal ponselnya yang sudah jauh ketinggalan zaman, ia tidak pernah memperdulikannya.

Sampai detik ini, ponsel yang ia gunakan masih berfungsi dengan baik, meskipun ada beberapa pembaruan sistem yang tidak bisa ia akses, namun itu bukan masalah besar baginya.

Lagipula, mengikuti tren terkini termasuk membeli ponsel keluaran terbaru dan termahal bukan jadi tolak ukur seseorang dinilai sebagai orang kaya.

Toh dengan ponsel yang katanya sudah jadul, ia mampu membeli beberapa barang branded seperti Gucci, Prada dan ia tinggal di sebuah apartemen mewah yang berada di jantung Ibukota, bahkan tanpa cicilan.

Winna memang tinggal di jantung Ibukota, dimana semua pusat pemerintahan dan perekonomian berputar di sekitar sana. Ibukota yang tidak pernah tidur, bahkan tengah malam sekalipun.

Banyak orang-orang dari luar daerah menginginkan untuk bisa menjadi kaum urban di Ibukota, entah untuk mengejar karir atau mencari popularitas, seperti menaikkan engagement rate di akun sosial medianya. Mengingat betapa cepatnya seseorang bisa mencapai popularitasnya karena ‘pernah’ menginjakkan kaki di Ibukota.

Sayangnya hal itu tidak menarik sama sekali bagi Winna, problematika hidupnya adalah bagaimana ia bisa merasakan bagaimana rasanya diakui atas namanya sendiri, bukan nama orangtuanya.

Meski ia sudah bersusah payah melakukan segalanya tanpa uluran tangan orang tuanya, namun label “anak konglomerat” tidak pernah lepas darinya, dan ia benci dipandang sebelah mata.

“Perlombaan semacam itu, biarlah menjadi urusan orang lain”. Itu yang menjadi motto hidupnya.

Postingan sebelumnya

♧♧♧

Seusai sarapan, Winna segera beranjak dari meja makan dan keluar meninggalkan apartemennya. Apartemen yang dihuni Winna memiliki fasilitas yang mewah dan super canggih, aksesnya pun hanya bisa dikunci dan dibuka dengan suara petikan jarinya, sehingga siapapun tidak bisa seenaknya memiliki akses keluar masuk apartemen itu, termasuk orang tuanya.

Berkali-kali orang tuanya mengingatkan untuk mengubah akses masuknya. Seandainya, suatu hari terjadi hal yang tidak diinginkan, orang lain akan sulit untuk membantunya. Dan berkali-kali Winna menolak saran tersebut, ia sudah mempertimbangkan hal ini matang-matang termasuk mengamankan barang berharganya, lagi pula juga tidak mungkin ia tidak menyiapkan alternatif lain.

Mobil SUV berwarna putih, berdiri dengan gagah di halaman bassement lantai 3 apartemennya, ia segera masuk ke dalam mobil itu dan menginjak pedal gasnya menelusuri jalan Ibukota.

Satu hari sebelum weekend, Ibukota sangat tenang dibandingkan hari sibuk lainnya, bahkan jalur buswaypun benar-benar dilintasi oleh busway saja.

Tidak memakan waktu yang lama dari biasanya, Winna sudah tiba di gedung perkantoran milik orang tuanya. Ia segera memarkirkan mobilnya, namun saat ia hendak keluar dari mobil ia terpikirkan Jeno.

Ia segera mencari ponselnya yang tersimpan di dalam tas, dan segera mencari pesan terakhir dari Jeno. Meskipun ia sudah menghapus nomor Jeno dari kontak bukan berarti ia tidak memiliki nomornya.

Pesan dari masa PDKT dengan Jeno masih disimpan olehnya, meskipun sudah masuk kategori arsip rasanya sayang menghapus banyak kenangan itu secara cuma-cuma.

Mungkin kalau pesannya dihapus, terhitung dari notifikasi bar ada 50.000+ pesan dihapus.

Dengan mantap, ia mengetikan beberapa kalimat yang akan dikirim untuk Jeno. Sekedar ucapan kolot, harusnya tidak mengapa.

173-234-×××
Last Seen 01.50

“Happy Birthday, Jeno! Wishing u a wonderful day 🎉”

Belum sampai di depan pintu gedung perkantoran, ponselnya bergetar. Segera Winna cek sang pengirim pesan tersebut.

173-234-××× terlihat dari homescreen ponselnya, segera ia buka pesan tersebut dan membacanya.

173-234-×××
Online

Thanks a lot 😇

Hah? Udah begitu doang? Gak nanya gitu gue siapa atau apa kek. Apa dia masih simpan nomor gue kali ya jadi gak perlu nanya ini dari siapa? Batinnya.

Ia mengabaikan pesan tersebut, dan segera masuk ke kantornya. barangkali kawan dan karyawannya sudah menunggunya.

Umumnya, atasan memang tidak banyak diharapkan kehadirannya lebih awal. Banyak karyawan mengharapkan mereka akan hadir telat, atau bahkan tidak hadir.

Usianya terbilang cukup muda, masih menunggu 6 tahun lagi menginjak usia berkepala tiga, tapi harapan karyawannya juga mungkin sama. Mengharapkan ia datang terlambat.

Catatan nandanadva

Gimana sama bab pertamanya? Semoga suka ya dan berkenan mengikuti karya pendek ini sampai selesai.

Oiya, boleh kok kasih saran dan masukannya supaya gue bisa menuliskan karya-karya yang sampai di hati kalian 💚